
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak naik ke level tertinggi dalam enam pekan pada perdagangan Senin (7/9) setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Brent crude berjangka naik US$1,03 atau sekitar 1,1% dan ditutup di US$97,31 per barel, setelah sempat menyentuh US$98,06, level tertinggi sejak 24 Juli. Sementara itu, West Texas Intermediate naik sekitar 1,3% ke US$92,65 per barel dan sempat mencapai US$93,29.
Sentimen pasar memanas setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa serangan terhadap aset Iran akan dibalas dengan serangan terhadap aset lawan. Pernyataan tersebut muncul setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut armada minyak Iran dalam posisi rentan, meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Amerika Serikat dan Iran juga saling melancarkan serangan terhadap kapal tanker dan kapal perang selama akhir pekan. Maritime intelligence firm Marisks menilai serangan tersebut sebagai eskalasi besar dalam konflik maritim karena kapal tanker komersial kini semakin sering menjadi bagian dari tekanan ekonomi kedua pihak. Kondisi ini memperbesar risiko gangguan terhadap arus minyak melalui Selat Hormuz.
Gangguan pelayaran melalui Hormuz telah mulai terlihat nyata. Rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas yang melintasi selat tersebut per hari dalam 10 hari terakhir, level terendah sejak Mei. Penurunan lalu lintas ini memperkuat kekhawatiran bahwa pasokan minyak dari Timur Tengah dapat tetap terbatas dalam waktu lebih lama.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari kebijakan OPEC+ yang mempertahankan kebijakan produksi untuk Oktober. Sementara itu, persediaan bahan bakar yang semakin ketat dan gangguan ekspor dari kawasan membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap perkembangan baru di Timur Tengah.
Analisa Newsmaker: arah Brent masih cenderung bullish selama ketegangan AS–Iran belum mereda dan gangguan pelayaran di Hormuz terus berlanjut. Area US$98 menjadi resistance terdekat, sementara penembusan konsisten di atas level tersebut dapat membuka peluang menuju US$100. Risiko kenaikan bahkan lebih besar jika serangan meluas ke infrastruktur energi regional, dengan Goldman Sachs menilai skenario gangguan pelayaran yang lebih berat dapat mendorong Brent hingga sekitar US$120 per barel.(yds)
Sumber: Newsmaker.id