
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali bergerak naik pada perdagangan Senin (7/9), setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat menyusul serangan militer AS terhadap sejumlah kapal tanker Iran. Situasi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu arus energi melalui kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia. Brent sempat naik sekitar 0,8% sebelum memangkas penguatannya dan diperdagangkan di kisaran US$96–97 per barel, sementara West Texas Intermediate bergerak di sekitar US$92 per barel.
Ketegangan meningkat setelah Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengatakan pasukannya menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada 5 September. Serangan tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran meluncurkan rudal balistik ke arah dua kapal perang AS. CENTCOM menyebut kapal M/T Kylo dihancurkan di Teluk Oman, sementara M/T Stark 1 dan M/T Downy dilumpuhkan. Tidak ada personel militer AS yang dilaporkan terluka dalam serangan Iran tersebut.
Iran kemudian meningkatkan tekanan dengan mengumumkan rencana pembentukan zona maritim terbatas baru di luar Selat Hormuz. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan wilayah tersebut akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut AS dan meluas ke sebagian Teluk Persia. Langkah tersebut memperbesar kekhawatiran pasar mengenai keamanan pelayaran komersial dan potensi gangguan lebih panjang terhadap pengiriman minyak serta produk energi dari kawasan tersebut.
Risiko terhadap jalur pelayaran juga semakin terlihat dari menurunnya aktivitas kapal di Selat Hormuz. Dalam sekitar 10 hari terakhir, lalu lintas kapal komoditas melalui jalur strategis tersebut turun ke level terendah sejak Mei, dengan rata-rata hanya sekitar 10 kapal per hari. Ketegangan terbaru juga membuat sejumlah pemilik kapal menghindari kawasan tersebut, sementara beberapa tanker memilih mematikan sistem pelacakan ketika melintasi wilayah berisiko tinggi.
Lonjakan risiko geopolitik membuat pasar kembali membicarakan kemungkinan Brent menembus level psikologis US$100 per barel. Haris Khurshid, Chief Investment Officer Karobaar Capital, menilai pasar memang telah memasukkan sebagian besar premi risiko, tetapi belum mencerminkan skenario terburuk. Apabila gangguan pelayaran memburuk dan mulai menyebabkan hilangnya pasokan minyak secara nyata dalam waktu lama, tekanan kenaikan harga dapat semakin besar. Minat spekulatif terhadap minyak juga meningkat setelah hedge fund menambah posisi bullish menyusul kembali memanasnya konflik AS-Iran.(asd)