
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin (7/9), setelah sebelumnya melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Brent diperdagangkan sekitar US$96,19 per barel, sementara West Texas Intermediate berada di sekitar US$91,03 per barel. Kedua benchmark tersebut masih bertahan dekat level tertinggi dalam sekitar enam pekan setelah masing-masing melonjak sekitar 8% dan 10% sepanjang pekan lalu.
Pergerakan minyak tertahan setelah Iran mengatakan negosiasi dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz mendekati tahap akhir. Kesepakatan tersebut berpotensi menghasilkan rute sementara yang lebih aman bagi kapal tanker dan kapal komersial, sehingga menurunkan sebagian kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut.
Namun, risiko geopolitik masih tetap tinggi. Amerika Serikat mengatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak Iran selama akhir pekan sebagai balasan atas serangan rudal terhadap kapal perang AS. Iran kemudian mengumumkan rencana membentuk zona terbatas baru di sekitar Hormuz, sementara aktivitas kapal komoditas melalui selat tersebut telah turun ke level terendah sejak Mei.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian karena gangguan yang lebih serius terhadap pelayaran dapat memicu kejutan pasokan global. Goldman Sachs memperkirakan Brent berpotensi mencapai US$120 per barel dalam skenario ketika serangan terhadap kapal semakin meluas dan mengganggu arus minyak secara signifikan.
Di sisi lain, pasar juga masih menghadapi ketatnya persediaan dan lemahnya arus minyak ke Asia. Impor minyak mentah via laut China pada Agustus hanya sekitar 7,14 juta barel per hari, jauh di bawah level sebelum konflik Iran, menunjukkan bahwa gangguan Hormuz telah berdampak nyata terhadap negara pengimpor minyak terbesar dunia.
Analisa Newsmaker: harga minyak saat ini berada dalam tarik-menarik antara harapan terciptanya jalur pelayaran yang lebih aman melalui Hormuz dan risiko eskalasi militer yang belum mereda. Selama Brent bertahan di sekitar US$96 dan WTI di atas US$90, premi geopolitik masih terlihat kuat. Kesepakatan Iran–Oman dapat menekan harga jika mampu meningkatkan arus tanker, tetapi kegagalan negosiasi atau serangan baru berpotensi kembali mendorong Brent menuju US$100 bahkan lebih tinggi. (arl)
Sumber: Newsmaker.id