
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas kembali kehilangan sebagian penguatannya menjelang perdagangan sesi Eropa, Selasa (8/9), setelah sebelumnya sempat naik ke area US$4.440 per troy ounce pada sesi Asia. XAU/USD masih bergerak positif secara harian di sekitar US$4.430-an, namun kesulitan menembus area US$4.450 karena investor mulai menahan posisi menjelang data inflasi Amerika Serikat.
Tekanan terhadap emas muncul setelah kenaikan pada sesi Asia memicu aksi ambil untung. Pelemahan dolar AS sebelumnya membantu emas bangkit dari area US$4.410, tetapi dorongan tersebut belum cukup untuk membawa harga melewati resistance US$4.450. Pelaku pasar terlihat enggan mengejar kenaikan lebih jauh sebelum memperoleh petunjuk baru mengenai arah kebijakan Federal Reserve.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi penghambat utama. Pasar memperkirakan peluang sekitar 58%–60% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September setelah Non-Farm Payrolls Agustus menunjukkan penambahan 162.000 pekerjaan, jauh di atas perkiraan. Kondisi pasar tenaga kerja yang kuat memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan sikap hawkish.
Selain itu, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun bergerak sedikit lebih tinggi menjelang pembukaan Eropa. Kenaikan yield meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga, sehingga ikut membatasi kemampuan logam mulia untuk memperpanjang reli. Di saat yang sama, harga minyak yang masih tinggi akibat ketegangan Timur Tengah memperbesar kekhawatiran inflasi dan memperkuat spekulasi bahwa The Fed mungkin perlu menjaga suku bunga tetap tinggi atau kembali menaikkannya.
Meski demikian, tekanan terhadap emas masih mendapat penahan dari dolar AS yang berada dekat level terendah dua pekan serta meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Teluk. Kondisi tersebut membuat permintaan safe haven belum sepenuhnya hilang dan menjaga harga emas tetap berada jauh di atas level terendah sesi Asia.(CP)