
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas melanjutkan rebound pada perdagangan Kamis (3/9), setelah sempat turun ke bawah US$4.300 per troy ounce dan menyentuh level terendah hampir empat pekan pada sesi sebelumnya. XAU/USD bergerak di sekitar US$4.488, naik 2,30% pada hari ini.
Penguatan emas didukung oleh pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil Treasury. Reli tajam yen Jepang ikut menekan greenback, sementara koreksi yield obligasi AS memberi ruang bagi pembeli untuk kembali masuk ke pasar emas.
Data tenaga kerja AS terbaru juga menambah tekanan terhadap dolar. Initial Jobless Claims naik menjadi 206.000 pada pekan yang berakhir 29 Agustus, sedikit di atas perkiraan pasar sebesar 205.000 dan lebih tinggi dari angka sebelumnya 204.000.
Indeks Dolar AS atau DXY bergerak di sekitar 99,00, dekat level terendah satu pekan, setelah sebelumnya sempat mencapai 99,86 pada Rabu. Pelemahan dolar biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena membuat logam mulia lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Meski begitu, kenaikan emas masih menghadapi sejumlah hambatan. Yield Treasury AS tenor 10 tahun masih berada di sekitar 4,74%, meskipun turun untuk hari kedua setelah sempat menyentuh 4,81%, level tertinggi sejak Oktober 2023. Harga minyak yang tinggi akibat konflik Timur Tengah juga masih menjaga risiko inflasi tetap hidup.
Analisis Newsmaker: Rebound emas saat ini menunjukkan tekanan jual mulai mereda setelah XAU/USD berhasil kembali mendekati area US$4.500. Namun, penguatan belum sepenuhnya aman karena pasar masih memperkirakan peluang sekitar 60% kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15–16 September. Secara teknikal, resistance terdekat berada di US$4.500, lalu 200-day SMA di sekitar US$4.533. Jika data ISM Services PMI dan NFP melemah, emas berpeluang lanjut menguat. Sebaliknya, jika data tenaga kerja kuat, dolar dan yield bisa kembali naik dan menekan emas. (asd)
Sumber: Newsmaker.id