
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas mencoba pulih pada perdagangan Rabu setelah turun tajam hampir 2,7% pada sesi sebelumnya. XAU/USD kembali bergerak di atas US$4.356 per troy ounce dan diperdagangkan di sekitar US$4.334, setelah sempat menyentuh level intraday terendah di US$4.282.
Pemulihan emas didukung oleh koreksi tipis pada imbal hasil Treasury AS. Namun, ruang kenaikan masih terbatas karena yield tetap berada dekat level tertinggi terbaru, dengan yield Treasury AS tenor 10 tahun bergerak di sekitar 4,78% setelah sempat menyentuh 4,81%.
Tekanan terhadap emas juga datang dari meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah. Eskalasi konflik AS-Iran mendorong harga minyak naik, sehingga memperbesar kekhawatiran bahwa inflasi energi dapat bertahan lebih lama dan mempersulit arah kebijakan bank sentral global.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar semakin memperkirakan Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga kini berada di sekitar 70%, naik tajam dari 36% sepekan sebelumnya setelah pidato hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.
Dolar AS juga masih menjadi tekanan bagi emas. Indeks Dolar AS atau DXY bergerak di sekitar 99,77 setelah sempat mencapai 99,86, level tertinggi sejak 14 Agustus. Meski begitu, kenaikan dolar sedikit tertahan oleh data ADP yang menunjukkan payroll swasta AS hanya bertambah 38.000, di bawah perkiraan 47.000.
Analisis Newsmaker: Rebound emas saat ini masih terlihat sebagai pemulihan teknikal setelah penurunan tajam, bukan sinyal pembalikan tren yang kuat. Selama XAU/USD masih tertahan di bawah area US$4.360–US$4.400, tekanan jual berpotensi tetap dominan. Fokus utama kini tertuju pada data Nonfarm Payrolls Jumat; jika NFP kuat, ekspektasi rate hike The Fed bisa makin besar dan emas berisiko kembali menguji US$4.300–US$4.280. Namun, jika NFP melemah, emas berpeluang rebound lebih jauh karena dolar dan yield dapat terkoreksi. (asd)
Sumber: Newsmaker.id