
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas mulai menunjukkan pemulihan menjelang pembukaan sesi Eropa pada Rabu (2/9) setelah mengalami tekanan tajam sepanjang perdagangan Asia. XAU/USD sebelumnya sempat turun hingga sekitar US$4.287–US$4.303 per troy ounce, level terendah dalam lebih dari tiga pekan, sebelum muncul aksi beli yang membawa harga kembali bergerak naik dari area tersebut.
Pantulan emas terjadi setelah tekanan jual mulai mereda usai penurunan selama beberapa sesi terakhir. Kondisi harga yang sudah cukup rendah mendorong sebagian pelaku pasar melakukan buying on dips dan aksi ambil untung dari posisi jual, sehingga memberikan ruang bagi emas untuk melakukan technical rebound menjelang masuknya likuiditas pasar Eropa.
Permintaan safe haven juga mulai kembali memberikan dukungan setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Kedua negara kembali bertukar serangan, sementara Iran memperingatkan bahwa perkembangan konflik dapat membatasi lalu lintas di Selat Hormuz. Ketidakpastian geopolitik tersebut berpotensi meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai aset perlindungan.
Meski demikian, kenaikan emas masih menghadapi hambatan besar dari dolar AS dan yield Treasury yang tinggi. Indeks dolar bertahan dekat level tertinggi dalam dua pekan, sementara yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat mencapai sekitar 4,81%, level tertinggi dalam hampir tiga tahun. Kondisi tersebut masih membuat biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap tinggi.
Ekspektasi kebijakan Federal Reserve juga belum sepenuhnya menguntungkan emas. Pasar saat ini memperhitungkan sekitar 68% peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed September, setelah sejumlah pejabat bank sentral memberikan sinyal bahwa suku bunga dapat kembali dinaikkan apabila tekanan inflasi tidak mereda.
Kenaikan harga minyak akibat konflik AS-Iran menjadi faktor yang memiliki dua sisi bagi emas. Ketegangan geopolitik meningkatkan kebutuhan terhadap safe haven, tetapi minyak Brent yang bergerak di sekitar US$95 per barel juga memperbesar kekhawatiran inflasi. Jika tekanan inflasi meningkat, pasar dapat semakin yakin bahwa Federal Reserve perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat, sehingga berpotensi membatasi reli emas.(CP)