
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas turun tajam pada perdagangan Selasa setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi dan memperburuk aksi jual di pasar obligasi global. Pada saat yang sama, pelaku pasar semakin meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
XAU/USD turun 1,6% menjadi US$4.377,84 per troy ons, sementara kontrak berjangka emas melemah 1,2% menjadi US$4.426,26. Perak atau XAG/USD turun 2,4% ke US$64,98 per ons, sedangkan platinum melemah 1,2% menjadi US$1.774,70. Indeks Dolar AS naik sekitar 0,2% ke level 99,59.
Tekanan terhadap emas semakin besar setelah logam mulia tersebut telah kehilangan sekitar US$320 dari level tertinggi pekan lalu yang berada di sekitar US$4.697 per troy ons. Penurunan terbaru terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang membuat aset tanpa bunga seperti emas menjadi relatif kurang menarik bagi investor.
Tekanan jual juga merupakan kelanjutan dari pelemahan lebih dari 3% pada Jumat lalu. Saat itu, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%, sehingga pasar menangkap sinyal bahwa kebijakan moneter ketat masih berpotensi berlanjut.
Ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed pun meningkat tajam. Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 66% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September. Angka tersebut melonjak dibandingkan sekitar 40% sebelum pidato Warsh di Jackson Hole.
Risiko inflasi juga kembali menjadi perhatian setelah harga minyak melonjak. Brent bergerak di atas US$91 per barel, sementara minyak mentah AS berada di atas US$86 per barel setelah kembali pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi.
Kenaikan harga energi menjadi perhatian khusus karena dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter hawkish atau bahkan kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan harga terus meningkat.
Di pasar obligasi, yield Treasury AS tenor 10 tahun naik hingga sekitar 4,78%, level tertinggi sejak awal 2025. Aksi jual obligasi juga terjadi secara global dan mendorong kenaikan imbal hasil di sejumlah pasar utama.
Kombinasi antara penguatan dolar AS, lonjakan yield Treasury, kenaikan minyak, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga menciptakan tekanan kuat terhadap emas. Yield yang lebih tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id