
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak melemah pada perdagangan Selasa (1/9), masih berada dekat level terendah hampir dua pekan. Spot gold turun sekitar 0,4% ke US$4.428,86 per troy ons, sementara kontrak emas AS menguat tipis 0,1% ke sekitar US$4.485,30. Pasar masih berhati-hati setelah tekanan besar yang muncul menyusul komentar hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.
Warsh sebelumnya memberi sinyal bahwa The Fed masih dapat menaikkan suku bunga jika inflasi tidak menunjukkan kemajuan yang cukup menuju target 2%. Pernyataan tersebut membuat pasar meningkatkan peluang kenaikan suku bunga September menjadi sekitar 66%, sehingga yield Treasury AS ikut naik dan menambah tekanan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun bergerak ke sekitar 4,78%, mendekati level tertinggi dalam sekitar 20 bulan. Kenaikan yield terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak akibat meningkatnya kembali ketegangan AS–Iran, yang memperbesar kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dari sektor energi dapat bertahan lebih lama.
Brent telah bergerak di atas US$91 per barel, sementara gangguan lalu lintas melalui Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Data Kpler menunjukkan hanya lima kapal komoditas terpantau melewati Hormuz pada Senin, jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 14 kapal. Kondisi tersebut mempertahankan premi risiko pada harga energi.
Menariknya, meningkatnya risiko geopolitik belum mampu mengangkat emas secara signifikan sebagai aset safe haven. Pasar justru lebih fokus pada dampak lonjakan minyak terhadap inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga. Akibatnya, manfaat dari permintaan safe haven tertahan oleh tekanan yield yang lebih tinggi.
Meski demikian, tekanan terhadap emas juga belum berkembang menjadi aksi jual besar. Harga masih didukung oleh ketidakpastian geopolitik serta kekhawatiran fiskal AS yang sebelumnya mendorong narasi debasement trade. Emas juga masih mempertahankan sebagian besar kenaikan kuat yang tercatat sepanjang Agustus.
Fokus investor kini beralih ke rangkaian data tenaga kerja Amerika Serikat. Pasar akan mencermati data lowongan pekerjaan, ADP Employment, dan terutama Nonfarm Payrolls untuk memperoleh petunjuk mengenai kekuatan ekonomi serta kemungkinan langkah The Fed berikutnya.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id