
Trending

Market Academy
Sumber: Newsmaker.id
Perkembangan situasi di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang dapat menentukan arah pergerakan pasar global, terutama harga minyak dan emas. Sebagai salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia, gangguan terhadap Selat Hormuz dapat memberikan dampak besar terhadap pasokan minyak global, biaya pengiriman, hingga sentimen investor terhadap aset lindung nilai (safe haven).
Saat ini, pasar mencermati tiga kemungkinan skenario utama, yaitu Selat Hormuz tetap tertutup tanpa adanya kesepakatan, dibuka kembali secara terbatas dengan sejumlah syarat, atau kembali beroperasi penuh setelah tercapai kesepakatan. Masing-masing skenario memiliki dampak berbeda terhadap harga minyak, emas, serta arah kebijakan moneter global.
1. Jika Tidak Ada Kesepakatan dan Selat Hormuz Tetap Ditutup
Skenario pertama menjadi kondisi yang paling bullish bagi pasar minyak. Jika Selat Hormuz tetap tertutup, pasar akan kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan, termasuk kenaikan biaya pengiriman, premi asuransi kapal, serta keterbatasan ketersediaan tanker.
Kondisi ini dapat mendorong harga minyak lebih tinggi karena investor mulai memasukkan risiko berkurangnya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Namun, pasar masih menghadapi ketidakpastian dalam mengukur kondisi pasokan sebenarnya karena meskipun arus tanker resmi melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas, terdapat indikasi bahwa sebagian pengiriman minyak tetap berlangsung melalui jalur tidak resmi (dark shipments).
Sementara itu, emas berpotensi mendapatkan respons positif pada awalnya karena investor cenderung mencari aset aman ketika risiko geopolitik meningkat. Namun, pergerakan emas tidak selalu berjalan satu arah. Apabila kenaikan harga minyak terus berlanjut, risiko inflasi juga dapat meningkat dan mendorong ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.
Situasi tersebut sebelumnya dapat memberikan tekanan terhadap emas, terutama ketika Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (Treasury yield) mengalami penguatan. Oleh karena itu, emas berpotensi naik di awal, tetapi tetap memiliki risiko koreksi apabila perhatian pasar kembali beralih kepada inflasi dan kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Kesimpulan Skenario 1:
Minyak memiliki peluang penguatan yang lebih jelas dibandingkan emas. Emas juga berpotensi naik, tetapi pergerakannya kemungkinan tidak sekuat minyak. Level penting emas yang perlu diperhatikan berada pada support US$4.425 dan resistance psikologis US$4.560–4.600.
2. Jika Kesepakatan Tercapai, tetapi Selat Hormuz Dibuka Secara Bersyarat
Skenario kedua menggambarkan kondisi yang lebih tenang, tetapi belum sepenuhnya aman. Dalam kondisi ini, harga minyak berpotensi mengalami penurunan karena premi risiko geopolitik mulai berkurang.
Namun, ruang penurunan minyak kemungkinan masih terbatas karena pembukaan secara bersyarat masih menyisakan sejumlah risiko. Aktivitas pengiriman belum tentu langsung kembali normal, biaya asuransi kapal masih dapat bertahan tinggi, dan pasar akan menunggu bukti nyata bahwa aliran pasokan minyak benar-benar telah stabil.
Penurunan harga minyak sebelumnya juga pernah terjadi setelah munculnya harapan penyelesaian konflik yang lebih luas, seperti adanya tanda-tanda gencatan senjata. Namun, tekanan kenaikan masih dapat muncul apabila pembatasan distribusi minyak tetap berlangsung.
Untuk emas, kondisi ini dapat memberikan dukungan karena penurunan harga minyak dapat membantu mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi. Namun, meredanya ketegangan geopolitik juga dapat mengurangi permintaan aset safe haven.
Dengan kondisi tersebut, emas kemungkinan lebih berpeluang bergerak stabil atau mengalami kenaikan terbatas dibandingkan mencatatkan reli besar.
Kesimpulan Skenario 2:
Harga minyak berpotensi turun menuju area US$90-an bawah, sementara emas dapat bertahan di atas US$4.440 selama Dolar AS dan Treasury yield tidak mengalami penguatan signifikan.
3. Jika Kesepakatan Penuh Tercapai dan Selat Hormuz Kembali Dibuka Sepenuhnya
Skenario ketiga menjadi kondisi yang paling bearish bagi harga minyak. Jika Selat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya, sebagian besar premi risiko akibat konflik geopolitik dapat menghilang dari pasar.
Dalam kondisi tersebut, harga Brent crude berpotensi mengalami tekanan menuju area US$82–88 per barel, bahkan dapat bergerak lebih rendah apabila aktivitas pengiriman, persediaan minyak, dan pasokan dari Timur Tengah kembali pulih dengan cepat.
Namun, pasar tetap perlu berhati-hati karena proses normalisasi pasokan dapat menghadapi berbagai risiko, seperti kendala logistik, keterbatasan tanker, serta perubahan pola distribusi energi global.
Bagi emas, reaksi awal kemungkinan negatif karena permintaan terhadap aset safe haven dapat berkurang ketika ketegangan geopolitik mereda. Namun, emas berpotensi kembali stabil apabila penurunan harga minyak mampu menekan inflasi, menurunkan imbal hasil obligasi, dan melemahkan Dolar AS.
Dalam skenario ini, emas kemungkinan mengalami koreksi terlebih dahulu sebelum menemukan area keseimbangan baru di sekitar US$4.380–4.425.
Kesimpulan Skenario 3:
Minyak menjadi aset yang paling rentan mengalami koreksi tajam. Emas juga berpotensi turun dalam jangka pendek, tetapi tidak selalu mengalami penurunan besar karena tekanan inflasi yang lebih rendah dan yield yang melemah dapat kembali memberikan dukungan.
Level Penting yang Perlu Diperhatikan
Untuk Gold / XAUUSD, area support utama berada pada US$4.425, kemudian US$4.380. Sementara itu, level resistance berada pada US$4.500, US$4.560, hingga US$4.600.
Untuk Brent Oil, area penting yang perlu diperhatikan berada di US$95–97 sebagai zona saat ini. Jika krisis kembali meningkat, harga dapat menguji area US$100–105. Sebaliknya, jika kesepakatan semakin kuat dan pasokan mulai pulih, minyak berpotensi bergerak menuju area US$88–90.
Kesimpulan Akhir
Jika Selat Hormuz tetap tertutup, minyak berpotensi mempertahankan tren bullish karena risiko gangguan pasokan meningkat. Emas juga dapat memperoleh dukungan dari permintaan safe haven, tetapi tetap rentan terhadap tekanan dari Dolar AS yang lebih kuat dan kenaikan Treasury yield.
Jika Selat Hormuz mulai dibuka kembali, minyak berpotensi mengalami tekanan turun akibat berkurangnya premi risiko, sementara emas kemungkinan bergerak lebih terbatas dan menunggu arah Dolar AS serta kebijakan The Fed.
Sementara itu, jika Selat Hormuz kembali normal sepenuhnya, minyak menjadi aset yang paling berisiko mengalami koreksi tajam. Emas dapat mengalami tekanan awal, tetapi berpotensi mendapatkan dukungan berikutnya apabila penurunan inflasi global memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan kebijakan suku bunga yang lebih longgar.
Sumber: Newsmaker.id