
Trending

Market Academy
Sumber: Newsmaker.id
Wall Street memangkas pelemahan pada perdagangan Selasa setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pasar kerja masih cukup tangguh. Namun, sentimen investor tetap tertekan oleh kenaikan harga minyak dan yield Treasury di awal September, yang secara historis menjadi bulan berat bagi pasar saham.
Pada pukul 10.45 waktu New York, Nasdaq Composite turun 0,7% ke 26.191,44, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 1,4%. S&P 500 turun 0,4% ke 7.658,05, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,2% ke 53.069,29.
Tekanan utama datang dari lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah. Minyak mentah bertahan di atas US$90 per barel setelah serangan militer AS terhadap situs rudal Iran di Pulau Larak dibalas Iran dengan serangan rudal ke pangkalan AS di Yordania.
Eskalasi tersebut mematahkan harapan bahwa gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz dapat segera mereda. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi berbasis biaya, terutama karena jalur tersebut merupakan salah satu rute penting pasokan energi global.
Yield Treasury AS juga naik di sepanjang kurva, mengikuti tekanan pasar obligasi global. Kenaikan biaya pinjaman membuat saham teknologi, semikonduktor, dan software berkapitalisasi besar kembali tertekan karena valuasinya lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Data JOLTS menunjukkan lowongan kerja AS pada Juli mencapai 7,271 juta, di bawah ekspektasi 7,330 juta, tetapi naik dari revisi turun Juni sebesar 7,182 juta. Angka ini memberi sinyal pasar tenaga kerja masih cukup resilien, meskipun tidak terlalu kuat untuk menghapus kekhawatiran terhadap arah suku bunga The Fed.
Analisis Newsmaker: Wall Street masih berada dalam tekanan karena kombinasi minyak tinggi, yield naik, dan ekspektasi kenaikan suku bunga September yang meningkat ke sekitar 64,4% setelah pidato hawkish Kevin Warsh. Meski data JOLTS membantu meredam pelemahan awal, pasar belum mendapat alasan kuat untuk kembali agresif membeli saham. Fokus berikutnya tertuju pada data Nonfarm Payrolls Jumat dan CPI pekan depan, yang akan menjadi penentu apakah The Fed benar-benar melanjutkan kenaikan suku bunga bulan ini. (asd)
Sumber: Newsmakers.id