
Trending
Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker terjadi dalam beberapa hari terakhir, tepat ketika arus ekspor minyak dari kawasan Teluk mulai mendekati level sebelum perang. Data terbaru menunjukkan pengiriman minyak dari kawasan tersebut telah pulih signifikan, meskipun risiko keamanan di jalur pelayaran utama dunia itu kembali membesar.
Aktivitas pelayaran melalui Hormuz sempat menunjukkan pemulihan kuat sepanjang September. Ekspor minyak Timur Tengah bahkan beberapa kali melampaui level sebelum perang, didukung peningkatan pengiriman dari Arab Saudi dan negara Teluk lainnya. Namun, rangkaian serangan baru terhadap tanker mulai menguji keberlanjutan pemulihan tersebut.
Sebagian besar kapal tanker yang melintasi Hormuz kini menggunakan koridor dekat pesisir Oman dan banyak yang mematikan sinyal digital untuk mengurangi risiko deteksi. Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin bergantung pada citra satelit dan data pelayaran untuk memantau arus pasokan secara real time.
Meski ancaman meningkat, dampak langsung terhadap volume ekspor belum sepenuhnya terlihat. Data terbaru menunjukkan ekspor Teluk pada September telah pulih menjadi lebih dari 80% dari level sebelum perang, sementara ekspor minyak mentah dan kondensat bahkan mendekati 90% dari level normal.
Sejumlah negara konsumen juga telah mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat untuk menahan tekanan harga. Langkah tersebut, bersama meningkatnya ekspor Timur Tengah, sempat membantu menekan harga Brent kembali ke bawah US$100 per barel. Namun, biaya pengiriman, asuransi, dan risiko gangguan logistik masih tetap tinggi.
Selat Hormuz tetap menjadi jalur vital bagi pasar energi global karena membawa porsi besar perdagangan minyak dan LNG dunia. Karena itu, peningkatan serangan terhadap kapal di kawasan tersebut berpotensi kembali mengangkat premi risiko geopolitik, terutama menjelang musim dingin di belahan bumi utara.
Analisis Newsmaker:
Fundamental minyak saat ini menunjukkan tarik-menarik antara pemulihan pasokan dan peningkatan risiko keamanan. Arus ekspor yang pulih menjadi faktor bearish, tetapi eskalasi serangan tanker dapat dengan cepat membalik sentimen jika mulai mengganggu volume pengiriman. Selama Hormuz tetap beroperasi mendekati normal, tekanan harga cenderung terbatas. Namun, jika serangan meningkat dan tanker mulai menghindari jalur tersebut, harga minyak berpotensi kembali mendapatkan dorongan kuat.
Sumber : Newsmaker.id