Reli Wall Street Gagal Menular ke Asia
Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Selasa(4/8) karena investor kembali meragukan keberlanjutan tren investasi kecerdasan buatan. Indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,6%, sedangkan Kospi Korea Selatan merosot hingga 1,9% akibat pelemahan saham SK Hynix dan Samsung Electronics.
Pergerakan tersebut berlawanan dengan Wall Street yang menguat tajam pada sesi sebelumnya. S&P 500 naik 1,5% dan mendekati rekor tertinggi, ditopang saham teknologi. Palantir melonjak dalam perdagangan setelah jam bursa setelah menaikkan proyeksi pendapatan dan laba, sementara Amazon tertekan oleh rencana penjualan saham Jeff Bezos.
Yen bergerak stabil di sekitar 157,40 per dolar AS setelah sebelumnya menguat tajam. Pasar masih mewaspadai kemungkinan intervensi lanjutan, menyusul langkah terkoordinasi Amerika Serikat dan Jepang untuk menopang mata uang tersebut pada pekan lalu.
Harga minyak Brent naik tipis ke sekitar US$84,10 per barel setelah sebelumnya jatuh tajam. Investor masih menunggu kepastian diplomasi AS–Iran dan pembukaan Selat Hormuz. Yield Treasury AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,68%, sementara emas naik tipis menuju US$4.060 per troy ounce.
Fokus investor kini beralih ke laporan keuangan perusahaan dan data tenaga kerja AS. Sekitar 86% perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja berhasil mencatat laba per saham di atas perkiraan, tetapi pasar masih membutuhkan bukti bahwa belanja besar untuk AI benar-benar menghasilkan pertumbuhan keuntungan.
Analisis Newsmaker: Bursa Asia masih rawan tertekan oleh valuasi saham AI yang tinggi dan aksi ambil untung. Namun, laba perusahaan yang kuat, penurunan yield, dan meredanya harga minyak dapat membatasi pelemahan. Arah selanjutnya akan sangat dipengaruhi laporan sektor teknologi, data tenaga kerja AS, serta perkembangan hubungan Washington–Teheran.(gn)
Sumber: Newsmaker.id