Bursa Asia Volatil, Investor Masih Cemas soal Saham AI
Bursa saham Asia bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis, (30/7) setelah mengalami tekanan tajam sepanjang pekan. Investor masih berhati-hati terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan atau AI, sementara keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga justru belum memberi arah jelas bagi pasar.
Harga minyak Brent turun ke bawah US$90 per barel setelah sempat melonjak lebih dari 7% pada sesi sebelumnya akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Meski begitu, data menunjukkan sejumlah kapal tanker masih bergerak keluar dari kawasan tersebut, walaupun serangan rudal dan drone masih berlangsung.
Saham chip Asia menjadi perhatian utama setelah aksi jual besar di Korea Selatan mengguncang pasar. Kospi sempat naik 4% dalam perdagangan yang volatil, tetapi masih mengarah pada penurunan mingguan sekitar 12%. Tekanan sebelumnya juga menghapus nilai besar dari pasar saham Korea Selatan karena investor mempertanyakan imbal hasil dari belanja besar sektor AI.
Sentimen sedikit membaik setelah Samsung Electronics melaporkan lonjakan laba operasional 19 kali lipat ke rekor tertinggi pada kuartal kedua. Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang naik lebih dari 1% pada awal perdagangan, sementara Nikkei Jepang menguat 2%, meskipun masih berpotensi melemah sekitar 3% dalam sepekan.
Dari sisi dampak market, pasar Asia masih berpeluang bergerak volatil karena investor menimbang prospek AI, laporan keuangan perusahaan teknologi besar, dan arah kebijakan The Fed. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen untuk menekan inflasi, tetapi tidak memberi panduan yang jelas terkait langkah berikutnya. Kondisi ini membuat yield obligasi AS tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007, sementara pasar kini memperkirakan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga pada September. (asd)
Sumber: Newsmaker.id