Wall Street Anjlok, Minyak dan Big Tech Jadi Beban
Bursa saham AS turun tajam pada perdagangan Kamis (23/7), tertekan oleh lonjakan harga minyak dan laporan keuangan dari dua perusahaan raksasa dunia. Dow Jones Industrial Average turun 527 poin atau 1%, S&P 500 melemah 1%, sementara Nasdaq Composite merosot 1,8%.
Tekanan utama datang dari kenaikan harga minyak setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Serangan ini memperbesar kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah bisa meluas dan mengganggu jalur pasokan energi global.
Sentimen pasar semakin memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur Iran jika Teheran kembali menargetkan kapal di Selat Hormuz. Ancaman tersebut membuat investor khawatir harga energi bisa terus naik dan memicu tekanan inflasi baru.
Yield Treasury AS juga ikut naik bersama harga minyak, dengan yield tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025. Kondisi ini menjadi tekanan tambahan bagi saham karena biaya pendanaan berpotensi meningkat dan aset obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan ekuitas.
Dari sisi emiten, Alphabet turun 6% setelah induk Google itu menaikkan proyeksi belanja modal 2026 hingga US$205 miliar. Meski menunjukkan kuatnya permintaan AI, investor mulai khawatir belanja besar hyperscaler bisa menekan margin. Tesla juga anjlok lebih dari 12% setelah kinerja kuartal II jauh di bawah ekspektasi dan biaya operasional naik lebih cepat dari pendapatan.
Dampaknya ke market, Wall Street berpotensi tetap tertekan jika harga minyak terus naik, yield Treasury bertahan tinggi, dan laporan Big Tech tidak mampu meyakinkan investor. Nasdaq paling rentan karena valuasi saham teknologi masih sensitif terhadap suku bunga dan belanja AI. Jika konflik Timur Tengah makin panas, pasar bisa bergerak risk-off, dengan dolar AS dan aset safe haven berpotensi lebih diminati.(arl)
Sumber : Newsmaker.id