Saham Asia Naik, Optimisme AI Redam Risiko Timur Tengah
Saham Asia menguat pada perdagangan Selasa, ditopang sentimen positif pada tema kecerdasan buatan (AI) meski pembicaraan damai AS–Iran belum menghasilkan kesepakatan. Indeks di Jepang, Korea Selatan, dan Australia naik, mendorong MSCI Asia Pacific Index bertambah 0,3% setelah Wall Street ditutup menguat ke rekor baru dan indeks saham semikonduktor Philadelphia melonjak 2,6% ke level tertinggi sepanjang masa.
Di pasar energi, minyak tetap tinggi. WTI bertahan di atas US$98 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada di “massive life support” dan menolak proposal damai terbaru Teheran, sementara Brent naik 0,3%. Kenaikan minyak ikut menekan pasar obligasi karena pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, tercermin dari imbal hasil Treasury 10 tahun yang naik 6 basis poin menjadi 4,41% pada Senin.
Fokus pasar juga tertuju pada data inflasi AS (CPI) untuk menilai dampak konflik terhadap tekanan harga. Sejumlah bank Wall Street menunda proyeksi pemangkasan suku bunga, dengan alasan inflasi dan pasar tenaga kerja masih cukup kuat sehingga The Fed berpotensi bertahan menahan suku bunga setidaknya hingga akhir tahun.
Sementara itu, penguatan ekuitas global dinilai masih ditopang prospek belanja AI, khususnya di Asia, yang membantu menjaga pertumbuhan laba perusahaan meski risiko geopolitik belum hilang. Namun, kekhawatiran tetap ada jika harga minyak bertahan tinggi dan memicu potensi gangguan pasokan, terutama bila situasi di Selat Hormuz terus berlarut.(asd)
Sumber: Newsmaker.id