Asia Tertekan Hormuz
Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Rabu (6/5), sementara harga minyak sedikit turun namun masih bertahan di atas US$100 per barel. Pasar masih mencermati tarik-ulur Amerika Serikat dan Iran yang berupaya menuju gencatan senjata, tetapi pada saat yang sama tetap saling menekan di sekitar Selat Hormuz.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,3%, sementara saham Australia melemah 0,4% dalam perdagangan yang lebih tipis. Pasar Jepang dan Korea Selatan tutup karena hari libur, membuat aktivitas perdagangan di kawasan Asia cenderung terbatas.
Tekanan juga terlihat pada bursa berjangka global. Futures Nasdaq dan S&P 500 masing-masing turun sekitar 0,1%, sedangkan EUROSTOXX 50 futures melemah 0,2% dan FTSE futures turun 0,75%. Kondisi ini menunjukkan investor masih berhati-hati terhadap risiko geopolitik yang belum mereda.
Ketegangan kembali meningkat setelah AS dan Iran melancarkan serangan baru di kawasan Teluk pada Senin. Kedua negara masih bersaing mengendalikan Selat Hormuz melalui blokade maritim, tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan upaya untuk membantu kapal tanker dan kapal dagang yang tertahan melewati jalur penting perdagangan energi tersebut.
Di pasar minyak, Brent turun 0,5% menjadi US$113,85 per barel, sementara minyak mentah AS melemah 1,3% menjadi US$105,03 per barel. Meski terkoreksi, harga minyak tetap berada di level tinggi karena pasar masih khawatir terhadap potensi gangguan pasokan dari Selat Hormuz.
Selain geopolitik, investor juga menunggu laporan kinerja emiten besar pekan ini, termasuk Advanced Micro Devices dan Pfizer. Sejauh ini, sebagian besar perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerjanya melampaui estimasi laba dan pendapatan, dengan sektor teknologi masih menjadi penopang utama berkat kuatnya belanja terkait kecerdasan buatan.(asd)
Sumber: Newsmaker.id