Harga Minyak Turun, Gencatan Senjata Rapuh Masih Bertahan Usai Bentrokan Hormuz
Harga minyak melemah pada Selasa (5/5) setelah gencatan senjata yang telah berlangsung sekitar empat minggu di Timur Tengah tetap bertahan, meski sebelumnya terjadi bentrokan di Selat Hormuz dan serangan terhadap Uni Emirat Arab yang sempat memicu lonjakan harga. Brent turun sekitar 4% dan ditutup di bawah US$110 per barel, hampir menghapus seluruh kenaikan pada sesi sebelumnya. Minat terbuka (open interest) pada kontrak acuan global juga turun ke level terendah sejak Agustus, mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah ketidakpastian dan volatilitas tinggi.
Penurunan harga terjadi setelah pemerintah AS meredam kekhawatiran kembalinya perang terbuka dengan Iran. Bentrokan kapal di Selat Hormuz dan serangan ke wilayah UEA, termasuk terminal minyak di Fujairah, dinilai belum melewati ambang batas pelanggaran gencatan senjata. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menyebut serangan Iran tidak termasuk pelanggaran kesepakatan, sehingga membantu meredakan ketakutan akan eskalasi lanjutan.
Meski demikian, situasi di lapangan tetap tegang. Lebih dari seribu kapal komersial dilaporkan masih terjebak di Teluk Persia akibat konflik dan blokade ganda di Selat Hormuz oleh Iran dan AS. Gangguan ini disebut sebagai salah satu disrupsi pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi, dengan pelaku pasar terus mencoba memperkirakan kapan konflik akan berakhir dan apakah pertempuran baru dapat kembali mengguncang harga.
Presiden Donald Trump mengatakan konflik dapat berlangsung beberapa minggu lagi. Akses ke Hormuz masih berada di bawah tekanan, dengan Iran menerapkan protokol baru bagi kapal yang melintas, sementara AS tetap menjalankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Otoritas AS juga menegaskan bahwa operasi “Project Freedom” untuk membantu kapal netral hanyalah misi sementara dan tidak mengubah status blokade yang ada.
Tekanan harga energi yang melonjak telah memicu kekhawatiran inflasi dan dampaknya terhadap pertumbuhan global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang naik ke level tertinggi dalam beberapa bulan, mencerminkan ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin perlu mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Sementara itu, Arab Saudi memangkas harga jual resmi minyaknya untuk pasar Asia bulan depan dari level rekor sebelumnya, meski harga tetap tinggi karena gangguan pasokan yang berlanjut. Pasar kini menantikan data persediaan minyak AS sebagai indikator penting arah pasokan dan harga ke depan.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id