• Wed, May 6, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

6 May 2026 03:00  |

Harga Minyak Turun, Gencatan Senjata Rapuh Masih Bertahan Usai Bentrokan Hormuz

Harga minyak melemah pada Selasa (5/5) setelah gencatan senjata yang telah berlangsung sekitar empat minggu di Timur Tengah tetap bertahan, meski sebelumnya terjadi bentrokan di Selat Hormuz dan serangan terhadap Uni Emirat Arab yang sempat memicu lonjakan harga. Brent turun sekitar 4% dan ditutup di bawah US$110 per barel, hampir menghapus seluruh kenaikan pada sesi sebelumnya. Minat terbuka (open interest) pada kontrak acuan global juga turun ke level terendah sejak Agustus, mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah ketidakpastian dan volatilitas tinggi.

Penurunan harga terjadi setelah pemerintah AS meredam kekhawatiran kembalinya perang terbuka dengan Iran. Bentrokan kapal di Selat Hormuz dan serangan ke wilayah UEA, termasuk terminal minyak di Fujairah, dinilai belum melewati ambang batas pelanggaran gencatan senjata. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menyebut serangan Iran tidak termasuk pelanggaran kesepakatan, sehingga membantu meredakan ketakutan akan eskalasi lanjutan.

Meski demikian, situasi di lapangan tetap tegang. Lebih dari seribu kapal komersial dilaporkan masih terjebak di Teluk Persia akibat konflik dan blokade ganda di Selat Hormuz oleh Iran dan AS. Gangguan ini disebut sebagai salah satu disrupsi pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi, dengan pelaku pasar terus mencoba memperkirakan kapan konflik akan berakhir dan apakah pertempuran baru dapat kembali mengguncang harga.

Presiden Donald Trump mengatakan konflik dapat berlangsung beberapa minggu lagi. Akses ke Hormuz masih berada di bawah tekanan, dengan Iran menerapkan protokol baru bagi kapal yang melintas, sementara AS tetap menjalankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Otoritas AS juga menegaskan bahwa operasi “Project Freedom” untuk membantu kapal netral hanyalah misi sementara dan tidak mengubah status blokade yang ada.

Tekanan harga energi yang melonjak telah memicu kekhawatiran inflasi dan dampaknya terhadap pertumbuhan global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang naik ke level tertinggi dalam beberapa bulan, mencerminkan ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin perlu mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Sementara itu, Arab Saudi memangkas harga jual resmi minyaknya untuk pasar Asia bulan depan dari level rekor sebelumnya, meski harga tetap tinggi karena gangguan pasokan yang berlanjut. Pasar kini menantikan data persediaan minyak AS sebagai indikator penting arah pasokan dan harga ke depan.(mrv)*

Sumber : Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai