Pound Menguat Didukung BoE, Sementara Dollar Tertekan
Pound sterling menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (06/05), melanjutkan kenaikan untuk hari kedua berturut-turut. Pasangan GBP/USD menjauh dari level terendah pekanan di kisaran 1,3510–1,3515 dan sempat naik mendekati area 1,3580 pada sesi Asia, seiring tekanan pada dolar AS.
Pelemahan dolar terjadi ketika sentimen pasar membaik oleh harapan tercapainya kesepakatan damai AS-Iran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa “Project Freedom” terkait pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz akan dijeda sementara untuk memberi ruang finalisasi kesepakatan, ditambah komentar pejabat pertahanan AS bahwa gencatan senjata masih bertahan, mendorong ekspektasi de-eskalasi dan mengurangi permintaan aset safe haven seperti USD.
Perkembangan geopolitik tersebut juga memicu penurunan harga minyak, yang kemudian menurunkan kekhawatiran inflasi. Dampaknya, pasar cenderung menahan ekspektasi bahwa Federal Reserve perlu bersikap lebih hawkish, sehingga dolar kembali kehilangan dukungan dari sisi suku bunga.
Di sisi lain, pound mendapat sokongan dari sinyal Bank of England bahwa kenaikan suku bunga masih bisa menjadi opsi bila inflasi tetap membandel. Kombinasi melemahnya dolar dan dukungan kebijakan dari Inggris membuat GBP/USD tetap memperoleh dorongan lanjutan dalam jangka pendek.
Selanjutnya, perhatian pasar mengarah ke data tenaga kerja AS, termasuk laporan ADP dan pidato sejumlah pejabat FOMC, dengan fokus utama pada rilis Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Di luar data, headline geopolitik tetap berpotensi memicu volatilitas, sehingga pergerakan GBP/USD akan banyak dipengaruhi oleh arah USD (sentimen risiko dan ekspektasi The Fed) serta perkembangan terbaru konflik AS-Iran. (asd)
Sumber: Newsmaker.id