Pound Goyah, Dolar Curi Momentum
Pound sterling sedikit melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (31/7). Pasangan GBP/USD berada di sekitar 1,3450, setelah dolar mencoba pulih dari tekanan tajam pada sesi sebelumnya. Meski terkoreksi, pound masih menuju kinerja bulanan terbaiknya sejak April.
Pemulihan dolar masih terbatas karena mata uang AS berada di jalur penurunan mingguan yang cukup dalam. Tekanan sebelumnya dipicu oleh penguatan tajam yen setelah dugaan intervensi Jepang, ditambah keraguan pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Data terbaru menunjukkan sentimen konsumen AS naik menjadi 55,2 pada Juli, lebih tinggi dari perkiraan awal sebesar 54,4. Perbaikan terjadi di berbagai kelompok pendapatan, usia, pendidikan, dan pilihan politik. Ekspektasi inflasi satu tahun berada di 4,2%, sedangkan proyeksi lima hingga sepuluh tahun bertahan di 3,3%.
Namun, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal kedua lebih lambat dari perkiraan. Inflasi inti PCE hanya naik 0,1% pada Juni dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga pasar mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga The Fed. Kurangnya petunjuk tegas dari Ketua The Fed Kevin Warsh juga membuat arah dolar masih belum stabil.
Tekanan inflasi tetap menjadi perhatian setelah tiga pejabat The Fed mendukung kenaikan bunga sebesar 25 basis poin. Lorie Logan, Beth Hammack, dan Neel Kashkari menilai kebijakan saat ini belum cukup ketat dan penundaan tindakan berisiko membuat The Fed harus mengambil langkah lebih agresif pada masa mendatang.
Di Inggris, Bank of England mempertahankan suku bunga di level 3,75%, tetapi tiga pejabat mendukung kenaikan menjadi 4% karena risiko inflasi energi.
Analisis Newsmaker: GBP/USD berpeluang bertahan kuat jika ekspektasi kenaikan bunga Inggris tetap terjaga. Namun, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintahan Perdana Menteri Andy Burnham dapat membatasi kenaikan pound, terutama jika dolar melanjutkan pemulihannya. (arl)
Sumber : Newsmaker.id