Kripto Pulih Tipis, Tapi Era “Ikut Bitcoin” Mulai Pudar
Pasar kripto mulai bergerak dengan pola yang lebih rumit dibanding siklus lama yang serba mengikuti Bitcoin. Dulu, saat Bitcoin naik, likuiditas mengalir deras ke bursa, venture, dan ribuan token spekulatif; saat turun, aktivitas ikut mengering. Kini, sebagian bisnis kripto justru tumbuh lewat jalur berbeda: stablecoin, tokenisasi aset, dan infrastruktur pembayaran—meski harga banyak koin masih tertekan.
Dari sisi harga, Bitcoin mencoba stabil pada perdagangan Senin (8/6) setelah tekanan tajam pekan lalu. Pada perdagangan terbaru, BTC berada di sekitar US$63.822 (naik sekitar 2,8% intraday), dengan rentang US$61.195–US$64.154. Pemulihan ini sejalan dengan narasi bahwa pelaku besar kembali melakukan akumulasi, namun pasar masih menahan diri karena arus dana institusional dan risk appetite belum pulih penuh.
Di lapisan pasar lain, altcoin masih menunjukkan pemulihan terbatas dan belum mengubah gambaran besar bahwa minat spekulatif menyusut. ETH naik ke sekitar US$1.696, sementara XRP di US$1,17 dan SOL di US$67,33. ADA berada di sekitar US$0,170, BNB di US$605,54, dan DOGE di US$0,0871.
Namun, pemulihan harga masih “beradu” dengan faktor fundamental global. Ketegangan Timur Tengah yang kembali memanas menjaga mode risk-off, sementara data tenaga kerja AS yang kuat pekan lalu membuat pasar lebih yakin suku bunga dapat bertahan tinggi lebih lama. Kombinasi ini biasanya menekan aset spekulatif tanpa imbal hasil seperti kripto, sehingga reli cenderung cepat tertahan saat dolar dan yield menguat.
Di saat yang sama, ironi kripto muncul: adopsi infrastrukturnya mulai meluas justru ketika harga banyak token kehilangan daya tarik. Stablecoin makin dipakai untuk pembayaran lintas negara, sementara institusi keuangan kian aktif mengeksplor tokenisasi instrumen tradisional. Artinya, “cerita kripto” semakin terbagi: infrastruktur tumbuh, tetapi aset spekulatif belum tentu ikut menikmati siklus naik seperti dulu. (arl)
Sumber: Newsmaker.id