De-eskalasi? Lebanon Masih Jadi Pemicu
Iran dan Israel menyatakan akan menahan intensitas serangan setelah eskalasi akhir pekan mengancam jalur negosiasi damai dan mendorong Presiden AS Donald Trump menyerukan de-eskalasi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel untuk sementara akan menahan tembakan di Iran, sementara Iran sebelumnya mengumumkan penghentian operasi militernya terhadap Israel.
Namun sinyal mereda itu dibayangi peringatan keras Teheran. Komando militer pusat Iran menyebut jika Israel terus menyerang—termasuk di Lebanon selatan—maka respons “jauh lebih keras” akan menyusul. Di sisi Israel, Netanyahu menolak “persamaan” yang menyiratkan serangan Israel terhadap Hezbollah di Lebanon akan dibalas Iran, menegaskan Israel tetap mengklaim hak membela diri.
Situasi makin rumit karena perang Israel–Hezbollah di Lebanon disebut tetap berlanjut “penuh”, sehingga risiko eskalasi regional belum benar-benar hilang. Beberapa jam setelah pernyataan de-eskalasi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis bahwa negaranya tidak meninggalkan “medan” maupun “meja negosiasi”, menandakan Teheran tetap menjaga dua jalur sekaligus: tekanan militer dan diplomasi.
Di pasar energi, harga minyak sempat melonjak lalu memangkas kenaikan setelah muncul sinyal kedua pihak mencoba menahan diri. Tetapi ancaman Iran untuk menarget fasilitas minyak dan gas yang terkait Israel, AS, dan sekutu jika infrastruktur energinya diserang kembali, menjaga premi risiko tetap tinggi.
Front tambahan juga muncul dari Yaman. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim meluncurkan serangan rudal ke Israel dan mengumumkan larangan total navigasi maritim bagi “musuh Israel” di Laut Merah. Jika ancaman ini berlanjut, jalur perdagangan dan energi dapat menghadapi gangguan baru, membuat pasar kembali sangat sensitif terhadap headline geopolitik.(arl)
Sumber: Newsmaker.id