Perak Rebound, Timur Tengah & The Fed Tarik Menarik
Harga perak berbalik menguat pada Senin (8/6) setelah sempat tertekan tajam pada akhir pekan. XAG/USD diperdagangkan di kisaran US$68,57 per ons, memantul dari level terendah lebih dari dua bulan yang tercapai pada Jumat.
Pemulihan ini terjadi saat pasar mencerna perkembangan terbaru di Timur Tengah. Ada sinyal penahanan serangan di satu sisi, tetapi konflik Lebanon tetap menjadi sumber risiko baru, sehingga investor masih menahan diri untuk agresif menambah posisi di aset berisiko. Kondisi “headline-driven” membuat perak mudah berayun karena volatilitas geopolitik ikut memengaruhi minyak dan ekspektasi inflasi.
Di sisi makro, faktor yang paling menahan reli perak adalah repricing suku bunga AS setelah data tenaga kerja yang kuat. Laporan pekerjaan terbaru mempertegas daya tahan ekonomi AS, sehingga pasar semakin yakin The Fed punya ruang mempertahankan kebijakan ketat lebih lama—bahkan membuka opsi kenaikan jika tekanan inflasi bertahan.
Sejalan dengan itu, pasar suku bunga meningkatkan probabilitas skenario pengetatan. Reuters melaporkan pasar (melalui FedWatch) memandang peluang kenaikan suku bunga hingga akhir tahun semakin tinggi, di tengah kombinasi pasar kerja yang kuat dan risiko inflasi energi. Lingkungan suku bunga tinggi biasanya menjadi beban untuk logam mulia yang tidak memberi imbal hasil, termasuk perak.
Meski begitu, rebound perak juga didukung oleh faktor teknikal setelah aksi jual tajam pekan lalu. Investor cenderung melakukan “buy the dip” ketika harga sudah turun terlalu cepat, tetapi pemulihan masih rapuh selama dolar dan yield tetap tinggi.
Fokus berikutnya ada pada data inflasi AS pekan ini—terutama CPI (Rabu) dan PPI (Kamis)—yang akan menentukan apakah pasar kembali menaikkan taruhan pengetatan atau memberi ruang bagi logam mulia untuk bernapas. Jika inflasi kembali panas, perak berisiko kembali ditekan; jika inflasi melunak, pemulihan bisa berlanjut, meski tetap sensitif terhadap headline Timur Tengah.(arl)
Sumber: Newsmaker.id