Silver Rebound, Risiko Hormuz Mengintai
Harga perak menguat lebih dari 1% dan kembali diperdagangkan di atas level $83 per ons pada Rabu, setelah sempat melemah selama dua sesi beruntun. Pemulihan ini terjadi ketika pasar kembali menimbang risiko geopolitik yang meningkat, terutama karena konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda.
Perang AS–Israel melawan Iran memasuki hari kelima, dan eskalasi terbaru ikut menjaga permintaan aset defensif. Laporan dari berbagai media internasional menyebut Israel menargetkan lokasi yang terkait dengan Assembly/Council of Experts di kota Qom—lembaga penting dalam proses suksesi pemimpin tertinggi Iran—yang mempertegas bahwa konflik berpotensi berubah menjadi krisis politik berkepanjangan, bukan sekadar benturan militer jangka pendek.
Di sisi lain, Washington berupaya meredakan kepanikan pada jalur energi global. Presiden Donald Trump menyampaikan kemungkinan pengawalan kapal oleh Angkatan Laut AS serta dukungan asuransi/penjaminan risiko untuk kapal tanker dan perdagangan maritim di kawasan Teluk, termasuk lintasan strategis Selat Hormuz. Langkah ini ditujukan untuk menstabilkan biaya pengiriman dan mencegah lonjakan energi makin liar, meski pelaku pasar menilai risiko operasional di lapangan tetap tinggi.
Meski demikian, perak baru saja mengalami koreksi tajam, sehingga kenaikan hari ini juga dibaca sebagai “rebound teknikal” setelah tekanan berlebihan. Dalam dua sesi sebelumnya, perak sempat tertekan kuat sebagian karena penguatan dolar AS dan perubahan ekspektasi suku bunga ketika pasar khawatir lonjakan biaya energi bisa memicu inflasi, membuat arah kebijakan The Fed berpotensi lebih ketat/lebih lama dari dugaan awal.
Karakter perak yang “dua wajah” membuat pergerakannya sering lebih liar dibanding emas: ia safe haven, tapi juga logam industri. Saat konflik memanas, minat lindung nilai bisa mengangkat perak. Namun ketika dolar dan yield naik karena narasi inflasi–suku bunga, perak juga rentan terkoreksi—apalagi setelah reli besar, pasar biasanya sensitif pada aksi ambil untung dan deleveraging.
Pandangan & prediksi: dalam jangka dekat, arah perak sangat bergantung pada dua penggerak utama apakah eskalasi konflik dan risiko Hormuz memburuk, dan apakah dolar tetap dominan karena kekhawatiran inflasi energi. Jika headline konflik makin panas dan pasar kembali mencari lindung nilai, perak berpeluang melanjutkan pemulihan. Tetapi bila dolar tetap menguat dan pasar semakin “hawkish” terhadap suku bunga karena risiko inflasi, kenaikan perak cenderung terbatas dan mudah berbalik volatil.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id