Perak Koreksi dari Tertinggi 3 Minggu, Fokus Beralih ke The Fed & Tarif
Harga perak melemah ke bawah $87 per ons pada Kamis (26/2), terkoreksi dari level tertinggi tiga pekan di sekitar $91,3 yang tercapai sehari sebelumnya. Pelemahan terjadi ketika premi geopolitik mereda dan prospek suku bunga yang tetap ketat kembali membatasi minat beli, meski ketidakpastian perdagangan global masih membayangi.
Sentimen safe haven jangka pendek ikut berkurang setelah perundingan nuklir AS–Iran di Jenewa mengisyaratkan peluang kemajuan, sehingga kebutuhan pasar untuk “berlindung” ke logam mulia tidak sekuat sesi sebelumnya. Kondisi ini mendorong sebagian pelaku pasar beralih ke mode profit taking setelah perak sempat mencatat kenaikan mingguan sekitar 3%.
Dari sisi makro, penguatan dolar AS turut memberi tekanan tambahan. Pasar menilai inflasi berbasis PCE masih cukup tinggi untuk membuat The Fed lebih nyaman menahan suku bunga lebih lama, sehingga ruang reli logam mulia yang sensitif terhadap imbal hasil (real yield) menjadi terbatas. Catatan: rilis PCE Januari secara resmi dijadwalkan 13 Maret, sehingga angka “3%” lebih tepat dipahami sebagai ekspektasi/penilaian pasar, bukan data final.
Sementara itu, pasar masih menanti kejelasan lanjutan terkait rencana Washington untuk menaikkan tarif global dari 10% menuju 15% melalui Section 122, setelah putusan Mahkamah Agung pada 20 Februari membatalkan sebagian bea masuk darurat sebelumnya. Ketidakpastian arah kebijakan ini membuat pelaku pasar cenderung mengurangi posisi berisiko dan menunggu sinyal yang lebih tegas.
Dengan kombinasi meredanya faktor geopolitik, dolar yang relatif tangguh, serta sikap suku bunga yang diperkirakan tetap ketat, pergerakan perak untuk sementara lebih didominasi koreksi teknikal dan penguncian keuntungan, sambil menanti kepastian headline tarif dan arah kebijakan moneter berikutnya. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id