• Wed, Aug 19, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

19 August 2026 20:40  |

Minyak Bertahan, Ketegangan Hormuz dan Pasokan Ketat Jaga Harga Tinggi

Harga minyak bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu(19/8) karena pasar masih menimbang risiko eskalasi di Timur Tengah dan ketidakpastian arus pasokan melalui Selat Hormuz. Brent diperdagangkan di sekitar US$91 per barel setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan. Dalam dua minggu terakhir, harga Brent telah naik sekitar 15% seiring peluang berakhirnya konflik di kawasan semakin mengecil.

Sentimen kembali memburuk setelah Uni Emirat Arab menyatakan akan menghentikan seluruh hubungan ekonomi dengan Teheran, menyusul tuduhan bahwa Iran menembakkan rudal balistik ke wilayahnya. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran untuk mengakhiri perang, membuat pasar semakin khawatir terhadap potensi gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Risiko di Selat Hormuz juga tetap tinggi. Tiga kapal tanker besar yang terkait dengan China dilaporkan berbalik arah di jalur tersebut, sementara Inggris sebelumnya melaporkan sebuah kapal yang keluar dari Hormuz terkena proyektil dan menewaskan satu orang. Meski demikian, produsen Teluk masih mampu mengirimkan sebagian minyak melalui jalur terbatas, sehingga membantu mencegah lonjakan harga yang lebih ekstrem.

Berakhirnya gencatan senjata 60 hari antara AS dan Iran turut meningkatkan ketidakpastian. Namun, sebagian trader mulai mengurangi posisi beli untuk mengantisipasi kemungkinan deeskalasi mendadak, sehingga membatasi penguatan minyak. Pasar kini mulai memperhitungkan skenario penutupan atau gangguan Hormuz yang berlangsung lebih lama, yang menjaga risk premium tetap tinggi.

Tekanan yang lebih besar justru terlihat pada produk olahan, terutama diesel. Konflik Rusia-Ukraina dan serangan terhadap kilang memperketat pasokan, mendorong margin produksi diesel di AS menembus US$100 per barel, rekor tertinggi sepanjang masa. Di Eropa, kontrak berjangka gasoil bahkan telah naik lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun, meningkatkan tekanan biaya bagi sektor transportasi, pertanian, dan industri.

Analisis Newsmaker: bias minyak masih cenderung bullish, tetapi pergerakannya mulai lebih volatil. Selama Brent bertahan di atas area US$90–US$91, risiko eskalasi Hormuz dan penurunan stok AS masih mendukung harga. Namun, jika muncul tanda deeskalasi atau arus kapal mulai kembali normal, profit taking dapat terjadi dengan cepat. Data inventori resmi AS menjadi katalis penting berikutnya untuk menentukan apakah Brent mampu mempertahankan momentum menuju area yang lebih tinggi.(gn)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Minyak Melonjak, Serangan Rudal Iran ke Israel Uji Gencatan ...

Harga minyak menguat tajam pada Senin setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal ke arah Israel, meningkatkan kekhawat...

8 June 2026 07:33
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai