Minyak Bertahan, Ketegangan Hormuz dan Pasokan Ketat Jaga Harga Tinggi
Harga minyak bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu(19/8) karena pasar masih menimbang risiko eskalasi di Timur Tengah dan ketidakpastian arus pasokan melalui Selat Hormuz. Brent diperdagangkan di sekitar US$91 per barel setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan. Dalam dua minggu terakhir, harga Brent telah naik sekitar 15% seiring peluang berakhirnya konflik di kawasan semakin mengecil.
Sentimen kembali memburuk setelah Uni Emirat Arab menyatakan akan menghentikan seluruh hubungan ekonomi dengan Teheran, menyusul tuduhan bahwa Iran menembakkan rudal balistik ke wilayahnya. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran untuk mengakhiri perang, membuat pasar semakin khawatir terhadap potensi gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Risiko di Selat Hormuz juga tetap tinggi. Tiga kapal tanker besar yang terkait dengan China dilaporkan berbalik arah di jalur tersebut, sementara Inggris sebelumnya melaporkan sebuah kapal yang keluar dari Hormuz terkena proyektil dan menewaskan satu orang. Meski demikian, produsen Teluk masih mampu mengirimkan sebagian minyak melalui jalur terbatas, sehingga membantu mencegah lonjakan harga yang lebih ekstrem.
Berakhirnya gencatan senjata 60 hari antara AS dan Iran turut meningkatkan ketidakpastian. Namun, sebagian trader mulai mengurangi posisi beli untuk mengantisipasi kemungkinan deeskalasi mendadak, sehingga membatasi penguatan minyak. Pasar kini mulai memperhitungkan skenario penutupan atau gangguan Hormuz yang berlangsung lebih lama, yang menjaga risk premium tetap tinggi.
Tekanan yang lebih besar justru terlihat pada produk olahan, terutama diesel. Konflik Rusia-Ukraina dan serangan terhadap kilang memperketat pasokan, mendorong margin produksi diesel di AS menembus US$100 per barel, rekor tertinggi sepanjang masa. Di Eropa, kontrak berjangka gasoil bahkan telah naik lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun, meningkatkan tekanan biaya bagi sektor transportasi, pertanian, dan industri.
Analisis Newsmaker: bias minyak masih cenderung bullish, tetapi pergerakannya mulai lebih volatil. Selama Brent bertahan di atas area US$90–US$91, risiko eskalasi Hormuz dan penurunan stok AS masih mendukung harga. Namun, jika muncul tanda deeskalasi atau arus kapal mulai kembali normal, profit taking dapat terjadi dengan cepat. Data inventori resmi AS menjadi katalis penting berikutnya untuk menentukan apakah Brent mampu mempertahankan momentum menuju area yang lebih tinggi.(gn)
Sumber: Newsmaker.id