Bessent Tekan Yield, Pasar Mulai Bereaksi
Menteri Keuangan AS Scott Bessent kembali mengambil langkah agresif untuk menekan biaya pinjaman jangka panjang setelah yield Treasury melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Departemen Keuangan AS mengumumkan akan setidaknya menggandakan ukuran operasi buyback untuk obligasi tenor 10 hingga 30 tahun, hanya dua pekan setelah merilis jadwal pembelian kembali untuk kuartal berjalan.
Pengumuman tersebut langsung memicu reli di pasar obligasi. Yield Treasury tenor 30 tahun turun hampir 10 basis poin ke sekitar 5,18%, menjauh dari level tertinggi sejak 2007. Dolar AS juga ikut tertekan dan mencatat salah satu penurunan terbesarnya dalam beberapa bulan terakhir karena penurunan yield mengurangi daya tarik aset berbasis dolar.
Langkah Treasury muncul di tengah kekhawatiran bahwa tingginya yield mulai memberikan tekanan nyata terhadap ekonomi AS. Biaya hipotek, pinjaman korporasi, dan pembiayaan pemerintah tetap tinggi, sementara beban bunga utang federal terus meningkat. Pemerintah juga menghadapi pasar obligasi yang sedang dibebani oleh besarnya penerbitan utang, konflik Iran, risiko inflasi, serta lonjakan kebutuhan pendanaan korporasi untuk investasi AI.
Program buyback yang lebih besar akan mulai dijalankan pada 9 September. Sebelumnya Treasury memperkirakan pembelian kembali hingga US$38 miliar surat utang lama atau off-the-run securities untuk mendukung likuiditas. Untuk sektor tenor 10 hingga 30 tahun, jadwal awal mencakup sekitar US$14 miliar, sehingga kebijakan baru berpotensi menambah setidaknya US$14 miliar lagi.
Strategi tersebut mulai dibandingkan dengan “Operation Twist” versi Treasury. Jika buyback obligasi jangka panjang dibiayai melalui penerbitan Treasury bills berjangka pendek, pemerintah pada dasarnya mengurangi durasi utang yang beredar di pasar. Efeknya mirip dengan kebijakan Federal Reserve di masa lalu yang bertujuan menekan suku bunga jangka panjang dan membantu aktivitas ekonomi.
Namun, efektivitas kebijakan ini dalam jangka panjang masih dipertanyakan. Yield panjang tidak hanya dipengaruhi likuiditas, tetapi juga ekspektasi inflasi, prospek ekonomi, defisit pemerintah, dan risiko geopolitik. Selama tekanan inflasi dan konflik Iran belum mereda, penurunan yield akibat buyback berpotensi hanya bersifat sementara.
Analisis Newsmaker: kebijakan buyback agresif memberikan sinyal bahwa pemerintah AS semakin serius menjaga agar yield jangka panjang tidak naik terlalu tinggi. Dalam jangka pendek, langkah ini cenderung positif bagi obligasi, saham, dan emas, sekaligus menekan dolar AS. Namun, jika pasar melihat kebijakan ini sebagai upaya menggantikan utang jangka panjang dengan utang jangka pendek secara berlebihan, kekhawatiran terhadap struktur pembiayaan pemerintah dan inflasi justru dapat kembali muncul. Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada apakah yield 10 dan 30 tahun mampu bertahan turun setelah efek awal buyback mereda. (arl)
Sumber : Newsmaker.id