Emas Bangkit dari Tekanan, FOMC Bisa Ubah Arah
Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu (19/8) setelah mengalami tekanan tajam sehari sebelumnya. Spot gold naik sekitar 0,5% ke US$4.356,29 per troy ons, sementara kontrak emas berjangka AS bergerak di sekitar US$4.410,30. Rebound terjadi seiring dolar AS melemah dan yield obligasi global mulai turun dari level tertinggi dalam beberapa dekade.
Pada perdagangan Selasa, emas sempat merosot sekitar 2% setelah biaya pinjaman jangka panjang di Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang melonjak tajam akibat kekhawatiran inflasi. Kenaikan yield tersebut membuat emas yang tidak memberikan bunga menjadi relatif kurang menarik dibandingkan obligasi.
Tekanan terhadap emas mulai mereda pada Rabu setelah aksi jual obligasi kehilangan momentum. Dolar AS ikut melemah, memberikan ruang bagi bullion untuk kembali menarik minat investor. Pelemahan greenback membuat emas menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Fokus pasar kini tertuju pada risalah rapat FOMC Juli yang dijadwalkan dirilis pada 18:00 GMT. Investor akan mencermati seberapa besar perbedaan pandangan di antara pejabat Federal Reserve serta apakah tekanan inflasi masih cukup kuat untuk mempertahankan kemungkinan kenaikan suku bunga.
Menurut CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan sekitar 67% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Ekspektasi kenaikan suku bunga terus berkurang setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.
Analisis Newsmaker: rebound emas saat ini masih sangat bergantung pada arah dolar, yield Treasury, dan nada FOMC Minutes. Jika risalah menunjukkan The Fed semakin condong mempertahankan suku bunga, emas berpeluang melanjutkan pemulihan dan kembali menguji area US$4.380 hingga US$4.400. Sebaliknya, jika nada hawkish kembali menguat dan yield berbalik naik, tekanan jual dapat kembali membawa gold menguji area support terdekat. (arl)
Sumber : Newsmaker.id