Minyak Menguat Tipis, Ketegangan Timur Tengah Masih Jadi Penopang
Harga minyak bergerak menguat tipis pada perdagangan Senin (17/8), seiring investor menunggu katalis baru untuk menentukan arah pasar. Brent crude sempat naik hingga 0,5% dan mendekati US$89 per barel, sebelum memangkas sebagian kenaikan.
Sentimen minyak masih ditopang oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Israel kembali melancarkan serangan ke Lebanon selatan dan menyebut telah menewaskan 11 orang, termasuk seorang komandan senior Hezbollah. Serangan ini menjadi salah satu eskalasi paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir.
Pasar juga mencermati rencana Amerika Serikat untuk menerapkan sanksi baru terhadap Iran. Ketegangan tersebut muncul menjelang berakhirnya masa gencatan senjata, sementara negosiasi antara Washington dan Teheran terkait Selat Hormuz masih belum menunjukkan jalan keluar yang jelas.
Di sisi lain, pergerakan aset global cenderung hati-hati. Dolar AS sedikit melemah, sementara kontrak berjangka saham Asia bergerak campuran. Emas naik tipis sekitar 0,1% ke kisaran US$4.380 per troy ounce, didukung sikap waspada investor terhadap risiko geopolitik dan pelemahan data konsumen AS.
Dari sisi dampak market, minyak berpotensi tetap bergerak volatil selama ketidakpastian Timur Tengah dan Selat Hormuz belum mereda. Jika sanksi AS terhadap Iran diperketat atau konflik Lebanon meluas, Brent berpeluang mempertahankan premi risiko. Namun, jika ada progres pembukaan Hormuz, harga minyak bisa kembali tertekan karena ekspektasi pasokan membaik. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id