Dolar Melemah, Yen Kembali Ambil Momentum!
Yen Jepang menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (17/08), mendorong USD/JPY turun untuk hari kedua berturut-turut ke sekitar 159,10. Penguatan yen terjadi meskipun data pertumbuhan ekonomi Jepang kuartal kedua menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan pasar.
Ekonomi Jepang tumbuh 0,3% secara kuartalan pada kuartal kedua 2026, melambat dari 0,5% pada kuartal sebelumnya dan berada di bawah perkiraan pertumbuhan 0,5%. Secara tahunan, GDP Jepang tumbuh 1,1%, juga lebih rendah dibanding estimasi 2,0% dan pertumbuhan 1,8% sebelumnya.
Data GDP yang lebih lemah dapat mempersulit langkah Bank of Japan untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter. BoJ sebelumnya mengandalkan kekuatan permintaan domestik sebagai salah satu alasan untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan setelah secara bertahap meninggalkan kebijakan ultra-longgar.
Namun, tekanan utama pada USD/JPY justru datang dari sisi dolar AS. Retail Sales AS Juli turun 0,6% secara bulanan, berbalik dari kenaikan 0,2% pada Juni dan jauh lebih lemah dari perkiraan kenaikan 0,1%. Secara tahunan, pertumbuhan penjualan ritel juga melambat menjadi 5,0% dari 6,8%.
Serangkaian data AS yang lebih lunak, mulai dari CPI, PPI hingga Retail Sales, membuat pasar kembali memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Peluang Fed hike pada September kini berada di sekitar 33%, turun dari sekitar 44% pada pekan sebelumnya.
Analisis Newsmaker: Meski GDP Jepang yang lemah dapat membatasi ruang BoJ untuk menaikkan suku bunga, pelemahan dolar AS saat ini menjadi faktor yang lebih dominan bagi USD/JPY. Selama ekspektasi Fed hike terus menurun, yen masih berpeluang mempertahankan penguatan. Namun, jika pasar kembali meragukan langkah normalisasi BoJ, USD/JPY dapat kembali mendapat dorongan naik dan area 160 tetap menjadi level psikologis yang perlu diperhatikan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id