Dolar Melemah, Peluang Fed Hike Turun dan Treasury Menguat
Dolar AS masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (17/08) saat berita ini dirilis DXY bergerak di kisaran 99.22, setelah data ekonomi Amerika Serikat yang lemah membuat pasar semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September. Bloomberg Dollar Spot Index turun sekitar 0,1% dan berada di sekitar level terendah sejak Mei, sementara dolar melemah terhadap seluruh mata uang utama Group of 10.
Tekanan terhadap dolar semakin kuat setelah Retail Sales AS Juli mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari satu tahun. Kondisi tersebut membuat pasar kini hanya memperkirakan peluang sekitar seperempat bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga bulan depan, turun tajam dibanding sekitar 50% pada pekan sebelumnya. Treasury AS ikut menguat, dengan yield tenor dua tahun turun ke sekitar 4,15% dan tenor 10 tahun melemah ke sekitar 4,68%.
Di pasar komoditas, minyak sempat menguat sebelum kehilangan momentum. Brent bergerak di sekitar US$88,55 per barel setelah sebelumnya mendekati US$89. Pasar masih menunggu katalis baru dari Timur Tengah, terutama perkembangan pembukaan kembali Selat Hormuz, serangan terbaru Israel di Lebanon, serta potensi tambahan sanksi AS terhadap Iran.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Israel menyatakan telah menewaskan 11 orang dalam serangan di Lebanon selatan, termasuk seorang komandan senior Hezbollah. Perkembangan tersebut berpotensi memperumit hubungan regional di tengah kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran terkait konflik Iran dan masa depan Selat Hormuz.
Sementara itu, emas menguat sekitar 0,4% ke kisaran US$4.390 per troy ons, mendapat dukungan dari pelemahan dolar dan turunnya ekspektasi Fed hike. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 juga bergerak naik setelah Wall Street sebelumnya terkoreksi akibat melemahnya Retail Sales dan Consumer Sentiment AS.
Analisis Newsmaker: Sentimen pasar saat ini bergerak di antara dua kekuatan utama: data ekonomi AS yang melemah dan risiko geopolitik Timur Tengah. Data konsumsi yang rapuh memperkuat peluang Fed menahan suku bunga dan menjadi tekanan bagi dolar sekaligus dukungan bagi emas serta obligasi. Namun, ketidakpastian Iran, Hormuz, dan konflik Lebanon tetap menjadi risiko utama yang dapat kembali mendorong volatilitas minyak, inflasi, dan pasar global.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id