Minyak Turun, Hormuz Mulai Terbuka?
Harga minyak masih bergerak melemah setelah Iran mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran sementara melalui Selat Hormuz. Kabar ini meningkatkan harapan bahwa pengiriman energi melalui jalur penting tersebut dapat kembali berjalan secara bertahap.
Harga minyak Brent diperdagangkan di sekitar US$79 per barel, sedangkan West Texas Intermediate atau WTI berada di kisaran US$75. WTI telah turun sekitar 11% selama tiga sesi awal pekan ini karena pasar semakin optimistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan.
Iran mengatakan jalur pelayaran yang disepakati dapat digunakan selama dua hingga empat bulan. Namun, kesepakatan tersebut belum berarti Selat Hormuz dibuka sepenuhnya karena kedua negara masih meninjau isi pernyataan bersama dan sejumlah syarat keamanan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington masih melakukan pembicaraan dengan Teheran. Pasar menilai negosiasi tersebut dapat membantu memulihkan arus kapal, tetapi para pelaku pasar masih berhati-hati karena risiko konflik dan serangan terhadap kapal belum sepenuhnya hilang.
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Stok di pusat penyimpanan Cushing kembali berada di atas batas operasional minimum. Namun, ancaman serangan di Timur Tengah serta gangguan ekspor minyak Kazakhstan masih membatasi penurunan harga.
Analisis Newsmaker: Kesepakatan Iran dan Oman menjadi sentimen bearish bagi minyak karena meningkatkan peluang bertambahnya pasokan ke pasar global. Jika jalur Hormuz berjalan lancar dan kesepakatan yang lebih luas tercapai, harga minyak berpotensi turun menuju US$70 per barel. Kondisi ini dapat menekan inflasi dan dolar AS, sementara emas juga berisiko melemah karena permintaan aset aman berkurang. Sebaliknya, serangan baru atau kegagalan negosiasi dapat kembali mengangkat harga minyak, emas, dan dolar.(Asd)*
Sumber: Newsmaker.id