Dolar dan Yield Tumbang, Emas Melesat 4%
Harga emas melonjak tajam pada perdagangan Rabu (5/8) dan membukukan kenaikan harian terbesar sejak Februari. Berdasarkan pembaruan pasar terakhir, emas spot naik 4,4% ke US$4.253,36 per troy ons setelah sempat menyentuh US$4.264,93, level tertinggi sejak 18 Juni. Kontrak emas AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 3,7% di US$4.305,20.
Reli emas didorong oleh pelemahan dolar AS ke sekitar level terendah enam pekan serta penurunan yield Treasury tenor 10 tahun ke level terendah satu pekan. Dolar yang lebih murah meningkatkan daya beli investor non-AS, sedangkan turunnya yield mengurangi biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Sentimen semakin kuat setelah data ADP menunjukkan perusahaan swasta AS hanya menambah 44.000 pekerjaan pada Juli, melambat tajam dari 95.000 pada Juni. Hasil tersebut memperkuat indikasi bahwa momentum perekrutan mulai mendingin dan membuat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Namun, tekanan hawkish belum sepenuhnya hilang. Presiden The Fed Kansas City Jeff Schmid menilai kebijakan saat ini belum cukup ketat untuk menurunkan inflasi menuju target 2%. Gubernur The Fed Lisa Cook juga menyatakan siap mendukung kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak segera melandai.
Dari sisi geopolitik, kemajuan pembicaraan Iran–Oman mengenai jalur pelayaran Selat Hormuz membantu menekan minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi energi. Namun, kesepakatan belum final karena persoalan kendali kapal, pemeriksaan, dan biaya transit masih belum terselesaikan. Artinya, emas memperoleh dukungan dari penurunan inflasi, tetapi masih menghadapi risiko jika yield kembali naik atau negosiasi Hormuz gagal.
Analisis Newsmaker: Momentum emas masih bullish setelah menembus area US$4.200 dan rata-rata pergerakan 50 hari di sekitar US$4.160. Resistance terdekat berada di US$4.265, lalu area psikologis US$4.300. Penembusan US$4.300 dapat membuka peluang menuju US$4.330–US$4.350. Sebaliknya, aksi ambil untung dapat membawa harga menguji US$4.200, kemudian US$4.160. Fokus utama berikutnya adalah NFP; data tenaga kerja yang kembali lemah berpotensi memperpanjang reli, sedangkan NFP kuat dan pertumbuhan upah tinggi dapat menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan bunga. (arl)
Sumber: Newsmaker.id