Harapan Damai Hempaskan Minyak Tiga Hari Beruntun
Harga minyak melanjutkan penurunan untuk hari ketiga pada perdagangan Asia Rabu. Brent turun ke sekitar US$78,27 per barel, sedangkan WTI melemah ke US$74,50, setelah kehilangan lebih dari 10% dalam dua sesi sebelumnya.
Tekanan jual muncul karena pasar semakin optimistis Amerika Serikat dan Iran dapat mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz. Qatar menyatakan rancangan proposal telah disiapkan, sementara Washington, Teheran, dan Oman dikabarkan mendekati kesepakatan awal berdurasi 60 hari.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan berjalan sangat baik dan perkembangan lebih jelas dapat diketahui dalam waktu 48 jam. Rancangan kesepakatan dilaporkan memungkinkan kapal masuk melalui jalur utara yang dikendalikan Iran dan keluar melalui jalur selatan dekat Oman, tanpa pungutan atau biaya pelayaran. Namun, belum ada kesepakatan final yang diumumkan.
Penurunan minyak juga didukung keputusan Trump menunda serangan baru terhadap Iran untuk memberi waktu bagi diplomasi. Iran bahkan mempertimbangkan keterlibatan negara Eropa dalam pembersihan ranjau di Hormuz. Meski demikian, kesepakatan jangka pendek belum tentu mengakhiri perang atau menyelesaikan perselisihan mengenai program nuklir Iran.
Dari Amerika Serikat, laporan API menunjukkan persediaan minyak mentah meningkat sekitar 2,69 juta barel, berlawanan dengan perkiraan penurunan sekitar 2 juta barel. Tambahan pasokan tersebut memperkuat tekanan bearish, meskipun pasar masih menunggu data resmi pemerintah AS untuk mengonfirmasi kenaikan stok.
Analisis Newsmaker: Arah jangka pendek minyak masih cenderung turun selama pembicaraan Hormuz menunjukkan kemajuan. Brent yang bertahan di bawah US$79 berpeluang menguji US$77–US$76, sedangkan WTI dapat menuju US$74–US$72. Namun, kegagalan negosiasi atau serangan baru terhadap kapal dapat mengembalikan premi geopolitik dan mendorong Brent menuju US$80–US$82 serta WTI ke US$76–US$78.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id