Selat Hormuz Menjadi Risiko Minyak Baru
Harga minyak tetap stabil setelah menguat selama tiga hari berturut-turut, karena pasar terus memantau konflik yang meningkat di Selat Hormuz. Brent diperdagangkan di bawah US$85 per barel setelah naik 12% dalam tiga sesi sebelumnya, sementara WTI berada di bawah US$80 per barel.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara lain ke Iran dan mengumumkan telah menonaktifkan sebuah kapal tanker kosong yang menuju pelabuhan Iran. Sebelumnya, Iran juga menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, menyebabkan penurunan aktivitas pengiriman dan menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan energi dari wilayah Teluk.
Presiden Donald Trump bersumpah untuk meningkatkan serangan sampai Iran berhenti menyerang kapal dan membuka kembali jalur energi tersebut. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai AS menghentikan serangan dan blokade pelabuhan Iran.
Risiko pasar energi juga diperburuk oleh gangguan pasokan dari Rusia, menyusul serangan hampir setiap hari Ukraina terhadap kilang dan kapal tanker Rusia. Analis percaya situasi ini dapat menyebabkan gangguan pasokan yang lebih permanen, sehingga pasar mempertimbangkan premi risiko baru sekitar US$5 hingga US$15 per barel pada harga Brent.
Meskipun lalu lintas kapal tanker masih beroperasi dengan bantuan AS, pasar belum melihat tanda-tanda normalisasi penuh. Akibatnya, pasar minyak dapat tetap sensitif selama ancaman dari rudal, drone, dan blokade terus berlanjut di Selat Hormuz. Jika gangguan berlanjut lebih lama, harga energi dapat tetap tinggi dan semakin menekan prospek inflasi global. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id