Indeks Dolar Melemah, Fokus Beralih ke Data Ekonomi AS
Newsmaker.id - Indeks Dolar Amerika Serikat kesulitan menguat di sekitar level 100,50 pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026. Indeks yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama tersebut berada dalam tekanan setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan mengurangi daya tarik mata uang Negeri Paman Sam.
Tekanan terhadap dolar meningkat setelah inflasi konsumen dan produsen AS menunjukkan tanda-tanda melandai. Inflasi inti tahunan turun menjadi 2,6%, sedangkan indeks harga produsen secara bulanan merosot 0,3%. Data tersebut mendorong pasar mengurangi perkiraan bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Meski demikian, pelemahan dolar masih terbatas karena inflasi AS tetap berada di atas target The Fed sebesar 2%. Ketua The Fed Kevin Warsh juga memperingatkan bahwa satu periode data yang lebih rendah belum cukup untuk memastikan tekanan harga telah sepenuhnya terkendali, terutama di tengah risiko kenaikan harga minyak dan ketegangan geopolitik.
Investor selanjutnya menantikan data penjualan ritel dan klaim pengangguran AS untuk mengukur kekuatan konsumsi serta kondisi pasar tenaga kerja. Data yang lebih kuat dari perkiraan dapat menghidupkan kembali peluang kenaikan suku bunga dan menopang dolar, sedangkan hasil yang lemah berpotensi membawa DXY turun lebih jauh dari area 100,50.
Dampak terhadap Market :
Dolar AS: Cenderung melemah selama DXY gagal bertahan di atas 100,50. Namun, data penjualan ritel yang kuat dapat mendorong pemulihan dolar.
Emas: Pelemahan dolar dan memudarnya perkiraan kenaikan suku bunga cenderung positif bagi emas. Namun, harga emas masih dapat tertahan apabila dolar kembali stabil atau imbal hasil obligasi meningkat.(CP)