Minyak Bertahan Tinggi di Tengah Ketidakpastian AS-Iran
Harga minyak bergerak stabil setelah mencatat kenaikan terbesar dalam sekitar satu bulan. Brent untuk pengiriman Agustus diperdagangkan di bawah US$95 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI berada di sekitar US$92 per barel. Kenaikan sebelumnya terjadi karena pasar kembali khawatir terhadap ketidakpastian negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada perdagangan Senin, harga minyak sempat melonjak setelah muncul laporan bahwa Teheran menghentikan pembicaraan dengan Washington sebagai bentuk protes terhadap serangan Israel di Lebanon. Namun, penguatan harga kemudian berkurang setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran masih berlangsung. Trump bahkan menyebut kemungkinan adanya nota kesepahaman untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sekitar satu pekan.
Meski begitu, pasar masih belum sepenuhnya tenang. Ketidakjelasan mengenai perpanjangan gencatan senjata dan masa depan arus energi melalui Selat Hormuz membuat harga minyak tetap mudah bergerak tajam. Laporan dari kantor berita Tasnim juga menyebut bahwa Iran dan sekutu regionalnya memasukkan agenda penutupan Selat Hormuz serta Bab el-Mandeb, jalur penting lain bagi ekspor minyak global.
Analis menilai harga minyak masih berpotensi tetap tinggi dan volatil selama arus energi melalui Hormuz belum benar-benar normal. Pada pukul 11.20 waktu Singapura, Brent turun tipis 0,4% ke US$94,60 per barel, sementara WTI melemah 0,5% ke US$91,73 per barel. Di sisi lain, perbedaan pernyataan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait konflik di Lebanon ikut menambah ketidakpastian pasar.(asd)
Sumber: Newsmaker.id