Minyak Melonjak, Hormuz Kembali Jadi Fokus
Harga minyak dunia menguat tajam pada Jumat (15/5) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menekan Iran dan menyatakan kesabarannya terhadap Teheran mulai habis. Brent naik 3,3% ke level US$109,19 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI menguat 3,7% ke US$104,89 per barel. Kenaikan ini membuat Brent menguat 7,8% sepanjang pekan, sedangkan WTI melonjak 9,9%.
Sentimen utama pasar masih tertuju pada ketidakpastian pembicaraan damai AS-Iran dan gangguan pelayaran di sekitar Selat Hormuz. Setelah bertemu Presiden China Xi Jinping, Trump mengatakan kedua negara sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan jalur Selat Hormuz harus kembali dibuka. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar bahwa risiko eskalasi militer masih belum sepenuhnya mereda.
Dari sisi analis, pasar minyak saat ini lebih banyak digerakkan oleh faktor geopolitik dibandingkan fundamental pasokan normal. Vandana Hari dari Vanda Insights menilai fokus pasar kembali tertuju pada kebuntuan negosiasi dan blokade Selat Hormuz, dengan risiko lanjutan berupa potensi eskalasi militer. Meski Iran menyebut 30 kapal telah melewati Selat Hormuz antara Rabu malam hingga Kamis, jumlah tersebut masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang yang mencapai sekitar 140 kapal per hari.
Secara opini, kenaikan harga minyak kali ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap setiap perkembangan di Timur Tengah. Selama Selat Hormuz belum pulih sepenuhnya dan pembicaraan damai belum menghasilkan kesepakatan konkret, harga minyak berpotensi tetap berada di level tinggi.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar energi, tetapi juga dapat menekan inflasi global, memperberat biaya impor energi, dan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga.(yds)
Sumber: Newsmaker.id