Minyak Bertahan Tinggi, Trump Ragukan Gencatan Senjata AS–Iran
Harga minyak bertahan di level tinggi setelah Presiden AS Donald Trump meragukan keberlanjutan gencatan senjata dengan Iran, sehingga pasar kembali menilai risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk, terutama karena arus di Selat Hormuz masih sangat terganggu.
Brent diperdagangkan di atas US$104 per barel setelah naik 2,9% pada sesi sebelumnya, sementara WTI berada di sekitar US$98 per barel. Trump menyebut gencatan senjata berada di “massive life support” dan menilai respons Iran terhadap proposal damai AS tidak memadai.
Walau gencatan senjata disebut sudah berlaku sejak awal April dan tetap bertahan meski terjadi beberapa insiden, termasuk serangan terhadap kapal, kondisi “hampir tertutupnya” Selat Hormuz dinilai sudah cukup untuk mengganggu pengiriman minyak, gas, dan bahan bakar ke pelanggan global, sekaligus memicu kekhawatiran tekanan inflasi.
Menurut sumber yang memahami pembicaraan, Iran meminta AS mencabut blokade laut dan memberi pelonggaran sanksi, namun tetap mempertahankan tingkat kontrol atas lalu lintas di Selat Hormuz. Bloomberg Economics menilai kesepakatan damai komprehensif kecil kemungkinannya, dan risiko kembali ke aksi saling serang masih ada meski intensitasnya diperkirakan hanya sementara sebelum turun ke level konflik yang lebih rendah.
Di sisi AS, Axios melaporkan Trump akan bertemu tim keamanan nasional untuk membahas perang, termasuk opsi melanjutkan aksi militer. Trump juga menyebut sedang meninjau kembali rencana pengawalan kapal melintasi selat, di tengah kenaikan harga BBM AS yang menambah tekanan politik menjelang pemilu paruh waktu November.
Namun, tanda-tanda kekuatan pasar mulai melemah. Sejumlah kilang disebut mengurangi pembelian, terlihat dari prompt spread Brent yang turun ke sekitar US$4 per barel (backwardation), dibanding puncak hampir US$10 bulan lalu. CEO Saudi Aramco Amin Nasser menyatakan pasar kehilangan 100 juta barel pasokan per pekan saat Hormuz terganggu, sementara beberapa pengiriman dialihkan ke pelabuhan barat Saudi, dan sebagian pembeli termasuk China mengambil volume lebih rendah.
5 inti poin:
- Trump meragukan gencatan senjata AS–Iran, meningkatkan premi risiko geopolitik.
- Brent bertahan di atas US$104 dan WTI sekitar US$98 setelah reli sesi sebelumnya.
- Gangguan Selat Hormuz menekan aliran minyak/gas global dan menghidupkan risiko inflasi.
- AS mempertimbangkan opsi keamanan (eskort kapal) dan langkah darurat pasokan, sementara sanksi terkait penjualan minyak Iran ke China bertambah.
- Indikator kekuatan pasar melemah: prompt spread menyempit karena kilang mengurangi pembelian meski risiko pasokan masih dominan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id