Trump Dorong Exit Strategy, AS Ajukan Nota Hormuz ke Iran lewat Pakistan
Amerika Serikat dan Iran disebut tengah mengupayakan proposal baru untuk mengakhiri perang pada Rabu, ketika Presiden Donald Trump mencari jalan keluar dari konflik yang telah mendorong lonjakan harga energi dan mulai menekan posisinya di dalam negeri. Pasar merespons dengan saham menguat dan minyak melemah, termasuk minyak mentah AS yang turun kembali ke bawah $100 per barel, seiring investor menimbang peluang de-eskalasi.
Menurut seseorang yang mengetahui langkah tersebut, Washington mengajukan nota kesepahaman satu halaman yang akan membuka kembali Selat Hormuz secara bertahap dan mencabut blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Negosiasi rinci mengenai program nuklir Iran akan ditempatkan pada tahap berikutnya, dan belum ada kesepakatan yang tercapai.
Tawaran itu datang setelah 48 jam yang menggambarkan dilema Trump dalam meredakan krisis energi yang ikut dipicu oleh keputusan AS menyerang Iran bersama Israel pada akhir Februari. Trump juga menangguhkan misi singkat AS untuk menawarkan jalur aman bagi kapal-kapal komersial melalui selat tersebut, jalur vital bagi minyak dan gas.
Urgensi diplomasi ikut dikaitkan dengan pertemuan puncak yang dijadwalkan pekan depan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang sebelumnya ditunda pada awal konflik karena situasi Timur Tengah. Di dalam negeri, jajak pendapat menunjukkan ketidakpuasan warga AS terhadap konflik meningkat menjelang pemilu paruh waktu, sementara isu keterjangkauan diperkirakan menjadi fokus utama.
Tekanan energi terlihat pada harga bensin yang menembus $4,50 per galon untuk pertama kalinya sejak Juli 2022, menurut American Automobile Association. Kondisi itu menantang janji Trump bahwa biaya di SPBU akan turun tajam ketika perang berakhir, sekaligus memperbesar perhatian pasar pada apakah normalisasi Hormuz dapat benar-benar memulihkan aliran pasokan.
Iran diperkirakan akan mengirimkan tanggapan melalui mediator Pakistan dalam dua hari ke depan, menurut sumber yang sama, meski media pemerintah mengisyaratkan sebagian proposal AS masih dinilai tidak realistis bagi kepemimpinan Iran. Trump sendiri berulang kali menyatakan kesepakatan sudah dekat, namun belum ada yang terwujud, dan ia mengakui kepada New York Post bahwa mungkin “terlalu dini” memikirkan pembicaraan tatap muka.
Di media sosial pada Rabu, Trump menyatakan AS akan mengakhiri kampanye militernya dan mencabut blokade Hormuz “dengan asumsi” Iran setuju pada apa yang telah disepakati, sembari memperingatkan bahwa jika tidak, “pemboman akan dimulai.” Di Israel, prospek kesepakatan memicu kekhawatiran: pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji terus menekan Iran sampai negara itu benar-benar dikalahkan dan program nuklir, rudal, serta milisi proksinya dibongkar, dan Netanyahu disebut sedang berdiskusi dengan pejabat AS untuk memahami situasi tersebut.(gn)
Sumber: Newsmaker.id