• Thu, Mar 19, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

19 March 2026 07:18  |

Minyak Melonjak saat Aset Energi Utama Diserang di Konflik Timur Tengah

Harga minyak menguat setelah serangkaian serangan menyasar beberapa fasilitas energi paling penting di Timur Tengah, memicu kekhawatiran dampak konflik yang hampir memasuki pekan ketiga akan semakin parah. Lonjakan terbaru menegaskan pasar mulai kembali mem-price-in risiko gangguan pasokan yang lebih besar, bukan hanya pada jalur pengiriman, tetapi juga pada fasilitas produksi dan ekspor energi.

Minyak acuan global Brent sempat naik hingga sekitar 3,4% dan menyentuh $111,02 per barel, sementara kontrak paling aktif WTI berada di kisaran $98. Gas alam AS juga melonjak hingga sekitar 5,6%. Iran dilaporkan menyerang salah satu lokasi LNG utama di Qatar, bagian dari janji Teheran untuk menarget aset energi regional setelah serangan terhadap ladang gas raksasa Iran, South Pars, dan fasilitas terkait.

Harga minyak telah melonjak sekitar 50% sejak perang dimulai, ketika konflik menimbulkan kekacauan di kawasan, membuat Selat Hormuz tersendat untuk pelayaran dan memangkas sebagian produksi minyak dan gas. Namun sebelumnya, industri hulu energi Iran relatif “lebih aman” dari serangan langsung, sehingga menahan potensi eskalasi yang dapat memukul suplai jangka panjang. Situasi berubah ketika serangan mulai menyentuh infrastruktur energi lintas negara, meningkatkan risiko kerusakan fisik yang bisa memperlambat normalisasi pasokan bahkan setelah konflik mereda.

“Pasar masih meremehkan dan belum sepenuhnya mem-price-in seberapa cepat ini bisa eskalasi menjadi serangan langsung ke infrastruktur energi Teluk yang lebih luas,” kata Haris Khurshid, CIO Karobaar Capital LP. Menurutnya, jika eskalasi berubah menjadi serangan langsung yang konsisten, $120 bukan lagi “batas atas”, melainkan bisa menjadi “titik awal”, dengan ruang menuju $140–$160 untuk Brent.

Dalam laporan Wall Street Journal, Presiden AS Donald Trump disebut mengetahui rencana serangan Israel ke South Pars sebelumnya, namun menginginkan tidak ada serangan lanjutan terhadap situs energi Iran. Di sisi lain, Trump sebelumnya menyatakan opsi menarget infrastruktur minyak di hub ekspor utama Iran, Kharg Island, masih ada di meja. Analis menilai tekanan pada Hormuz membuat AS tidak bisa sekadar “mengumumkan kemenangan dan pergi” karena itu tidak menyelesaikan masalah inti: keamanan jalur energi dan stabilitas pasokan global.

Qatar menyebut kompleks industri Ras Laffan—yang menjadi rumah bagi fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia—mengalami “kerusakan luas” akibat serangan misil. South Pars sendiri sangat penting bagi pasokan domestik Iran dan suplai ke negara tetangga seperti Irak dan Turki. Selain itu, aset minyak dan petrokimia terkait juga dilaporkan terkena serangan di Asaluyeh. Wood Mackenzie menilai serangan balasan ke Ras Laffan adalah skenario yang paling ditakuti pasar gas global dan berpotensi bullish bagi harga gas saat pasar kembali buka.

Di sisi lain kawasan, Abu Dhabi menyatakan menghentikan operasi fasilitas gas Habshan setelah intersepsi misil memicu serpihan jatuh. Media semi-resmi Iran juga melaporkan aset LNG di Bahrain terkena serangan misil berat, menambah kekhawatiran bahwa daftar target kini meluas ke fasilitas-fasilitas yang dianggap memiliki kepentingan AS.

Di AS, RBC Capital Markets menilai Washington bisa mempertimbangkan pungutan ekspor atau bahkan larangan ekspor minyak mentah untuk menahan kenaikan harga energi, terutama karena gap WTI–Brent melebar, dengan WTI diskon mendekati $12 per barel terhadap Brent. Sebagai bagian dari upaya meredam harga, Trump juga sempat mengeluarkan waiver sementara untuk aturan pelayaran Jones Act agar biaya pengiriman minyak, gas, dan komoditas lain antar pelabuhan AS lebih murah. Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance dan pejabat kunci pemerintahan dijadwalkan bertemu para eksekutif minyak pada Kamis.

Pada perdagangan Asia, Brent (Mei) naik sekitar 3,2% ke $110,80 per barel, sementara WTI (Mei) menguat sekitar 3,4% ke $98,68.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
BIAS23.com NM23 Ai