Minyak Bergerak Fluktuatif, Negosiasi Nuklir AS–Iran Jadi Penentu
Harga minyak bergerak fluktuatif dan bertahan dekat penutupan terkuat sejak Juli, seiring pasar menanti kelanjutan pembicaraan nuklir AS–Iran pekan ini di tengah pengerahan besar kekuatan militer AS di Timur Tengah. Pergerakan harga juga ikut dipengaruhi sentimen risk-off setelah pasar saham AS melemah.
Di AS, WTI nyaris tidak berubah dan ditutup di sekitar US$66/barel, setelah pekan lalu melonjak hampir 6% menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran. Sejumlah laporan juga menambah kewaspadaan pasar, termasuk kabar evakuasi sebagian staf Kedutaan Besar AS di Lebanon sebagai langkah antisipasi, serta pemantauan potensi aksi balasan terhadap kepentingan AS di luar negeri.
Putaran pembicaraan berikutnya antara AS dan Iran di Jenewa dijadwalkan Kamis. Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut ada “peluang bagus” solusi diplomatik, namun menegaskan Teheran tidak akan tunduk pada tekanan pengerahan militer AS. Di sisi lain, isu pengayaan uranium masih menjadi titik krusial yang membuat proses negosiasi rawan buntu.
Kekhawatiran konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang menahan minyak tetap tinggi, meski banyak pelaku pasar masih melihat potensi surplus pasokan global. Jika eskalasi terjadi, risiko terbesar ada pada pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi “choke point” ekspor dari kawasan produsen minyak terbesar dunia. Karena itu, pelaku pasar opsi sudah lama memasang perlindungan (hedging) dan membayar premi untuk mengantisipasi lonjakan harga.
Dari sisi arus fisik, Arab Saudi, Irak, dan Kuwait mengirim minyak lewat Hormuz—mayoritas menuju Asia. Iran sendiri memompa lebih dari 3 juta barel per hari, dan sebagian besar alirannya menuju China. Kombinasi risiko geopolitik dan gangguan pasokan di sejumlah titik ikut menjaga harga tetap sensitif terhadap headline.
Sementara itu, sejumlah bank besar tetap melihat ruang penurunan harga ke depan. Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga karena stok di negara maju tidak bertambah setinggi perkiraan, namun masih memperkirakan Brent berakhir sekitar US$60/barel di akhir tahun. Morgan Stanley juga memperkirakan Brent akan cenderung kembali ke area US$60 seiring waktu. Intinya, reli yang terjadi dinilai lebih didorong “premi risiko” ketimbang kelangkaan pasokan yang benar-benar ketat.
Di AS, pasar juga memantau efek lanjutan dari drama tarif: putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif lama dan rencana pemerintah menggantinya dengan tarif menyeluruh 15%. Selain itu, badai musim dingin yang mengganggu jaringan transportasi di New York ikut mendorong volatilitas produk energi dan memperketat sebagian indikator jangka pendek.
WTI April turun 0,1% dan ditutup US$66,31/barel.
Brent April turun 0,4% dan ditutup US$71,49/barel.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id