Saham Asia Melemah, Jelang NFP
Saham Asia turun pada Jumat saat investor mulai mengurangi eksposur di saham bertema kecerdasan buatan (AI) dan kembali mencermati risiko geopolitik Timur Tengah. Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,8%, dipimpin pelemahan Korea Selatan yang jatuh lebih dari 4%, menandai perubahan sentimen setelah reli sebelumnya banyak ditopang saham teknologi.
Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor setelah euforia AI mulai “dingin”. Kontrak berjangka indeks AS ikut melemah, dengan Nasdaq 100 futures turun sekitar 0,7% setelah indeks dasarnya turun dua hari berturut-turut. Pasar melihat rotasi: investor memangkas posisi di saham chip dan mulai mengalihkan dana ke sektor yang dianggap lebih “tahan” jika ekonomi tetap solid, terlihat dari Dow Jones yang justru sempat mencetak rekor.
Di komoditas, Brent bergerak stabil di sekitar US$95,20/barel, setelah turun pada sesi sebelumnya karena harapan AS–Iran mendekati terobosan diplomatik pasca gencatan bersyarat Israel–Lebanon. Namun optimisme ini tidak sepenuhnya mulus karena Hezbollah menolak proposal gencatan versi AS, sementara headline soal negosiasi AS–Iran juga saling bertabrakan.
Aset lain bergerak relatif tertahan: emas bertahan di sekitar US$4.460/oz, Treasury menguat pada Kamis karena pasar menangkap peluang de-eskalasi, dan Bitcoin naik tipis ke sekitar US$63.700. Namun ketegangan kawasan tetap menjadi sumber volatilitas setelah Iran dan AS kembali terlibat serangan, sementara beberapa mata uang Asia berada di bawah tekanan won Korea Selatan bahkan menyentuh level terlemah sejak 2009, memicu perhatian pada kapasitas bank sentral untuk mempertahankan nilai tukar.
Fokus pasar kini mengarah ke data tenaga kerja AS pada Jumat. Klaim pengangguran mingguan naik ke level tertinggi sejak Februari dan laporan Challenger menunjukkan pengumuman PHK di sektor teknologi mencapai level tertinggi hampir dua tahun. Dengan dua tema besar AI dan konflik AS–Iran masih mendominasi, laporan payrolls akan menjadi pemicu utama apakah pasar mulai mem-price-in risiko suku bunga lebih tinggi, atau justru melihat ruang bagi stabilisasi di tengah sentimen yang rapuh.(asd)
Sumber : Newsmaker.id