Risiko Iran Mereda, Minyak Langsung Turun
Harga minyak ambles tajam karena pasar mulai melepas “premi perang” yang sempat menempel selama Januari. Pemantiknya: Donald Trump bilang Washington sedang berkomunikasi/berbicara dengan Iran, bikin pelaku pasar membaca situasi sebagai sinyal de-eskalasi, bukan menuju bentrok terbuka.
Di sesi Senin, 2 Februari 2026, Brent turun ke sekitar $65,86/barel dan WTI turun ke sekitar $61,79/barel—keduanya terkoreksi sekitar 4–5% setelah sebelumnya mencatat lonjakan bulanan besar. Pasar yang kemarin nge-price in gangguan pasokan, sekarang buru-buru “reset posisi”.
Dari sisi geopolitik, Trump juga meremehkan ancaman “perang regional” dari Ali Khamenei. Di saat yang sama, ada dorongan diplomasi: laporan menyebut utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan Menlu Iran Abbas Araghchi disebut akan bertemu di Istanbul pada Jumat.
Menurut Haris Khurshid dari Karobaar Capital LP, penurunan ini lebih mirip pengaturan ulang posisi ketimbang perubahan fundamental besar—karena belum ada “shock” pasokan baru yang benar-benar terjadi.
Tekanan juga datang dari arus jual komoditas yang lebih luas. Saat logam mulia dan komoditas lain ikut diguyur aksi ambil untung, minyak ketarik turun bareng—apalagi dolar yang lebih kuat membuat komoditas berdenominasi USD jadi relatif lebih mahal bagi pembeli non-dolar.
Ke depan, pasar akan mengawasi dua “pemicu” utama: (1) apakah ada headline baru yang kembali memanaskan Iran–AS, dan (2) apakah level harga tertentu memicu jual lanjutan dari trader pengikut tren/CTA. Kalau tensi tetap mereda, minyak berpotensi lanjut konsolidasi—karena cerita besarnya di 2026 masih soal pasokan yang relatif longgar di paruh pertama tahun.(alg)
Sumber: Newsmaker.id