Geopolitik Mendingin, Minyak Ditinggal Investor
Harga minyak kembali turun tajam pada hari Senin (2/2) karena “premi perang” yang sempat menempel mulai menguap. Pemicu utamanya datang dari Donald Trump yang menyebut Washington sedang berkomunikasi dengan Iran—membuat pasar membaca situasi sebagai sinyal de-eskalasi, bukan menuju konfrontasi.
Harga terupdate: Brent (kontrak April) terakhir berada di kisaran $65,9–$66,1 per barel, sedangkan WTI (kontrak Maret) di sekitar $61,8–$62,0 per barel.
Trump juga meremehkan peringatan “perang regional” dari Ayatollah Ali Khamenei dan menegaskan kembali harapannya ada kesepakatan. Dari sisi Teheran, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan diplomasi sedang diupayakan untuk mencegah perang, dan media Tasnim News Agency melaporkan pembicaraan AS–Iran berpeluang berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Tekanan di minyak juga “tertekan” sentimen jual komoditas yang lebih luas. Setelah emas dan perak sempat turun tajam, aksi lepas risiko merembet ke aset komoditas lain—membuat penurunan minyak terasa lebih dalam dari sekadar faktor headline geopolitik.
Koreksi ini terjadi tepat setelah minyak mencetak kenaikan bulanan terbesar sejak awal 2022. Januari sempat ketat karena pasar keburu mem-price in risiko gangguan pasokan, tetapi begitu tensi mereda, fokus balik lagi ke “cerita besar” 2026: pasokan global relatif tinggi, terutama di paruh pertama tahun ini.
Dengan kata lain, pasar sedang melakukan reset posisi: dari mode “takut pasokan terganggu” menjadi mode “cek ulang fundamental”. Selama tidak ada kejutan baru dari Timur Tengah, pergerakan minyak bakal tetap sensitif—mudah jatuh saat premi risiko memudar, dan mudah loncat lagi kalau headline geopolitik balik panas. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id