Brent Drop Tajam: Risiko Geopolitik Mendadak Mendingin
Harga minyak jatuh tajam setelah mencetak kenaikan bulanan terbesar sejak 2022. Di sesi Asia, Brent turun sekitar 4% ke area $66-an, sementara WTI melemah ke kisaran $62-an—tanda pasar mulai “membuang” premi risiko yang sebelumnya menempel kuat.
Pemicu utamanya datang dari sinyal de-eskalasi: Donald Trump mengatakan Washington sedang berbicara dengan Iran, sekaligus meremehkan ancaman “perang regional” dari Ayatollah Ali Khamenei dan menegaskan harapannya ada kesepakatan. Ketika kemungkinan konflik mereda, pasar langsung memangkas “risk premium”.
Banyak pelaku pasar melihat penurunan ini lebih seperti reset posisi ketimbang perubahan fundamental besar. Setelah reli panjang, harga rawan profit taking—apalagi ketika tidak ada kejutan suplai baru yang benar-benar terjadi. Hasilnya: oil yang sempat naik kencang sekarang “narik napas” lewat koreksi cepat.
Di luar Timur Tengah, pasar juga mengawasi perkembangan perang Rusia–Ukraina. Volodymyr Zelenskiy menyebut pertemuan trilateral berikutnya antara AS, Rusia, dan Ukraina dijadwalkan 4–5 Februari di Abu Dhabi. Meski terobosan sebelumnya minim, setiap progres (atau kebuntuan) tetap penting karena perang dan sanksi ikut memengaruhi alur perdagangan minyak Rusia.
Perlu diingat, reli minyak sebelumnya memang didorong oleh eskalasi yang sempat membawa Iran dan AS ke tepi konflik—pasar waktu itu menghitung risiko gangguan pasokan dari kawasan yang menyumbang porsi besar suplai global. Namun begitu tensi “tidak jadi meledak”, fokus cepat balik ke isu yang lebih struktural: pasar yang relatif well-supplied dan kekhawatiran kelebihan pasokan global.
Dari sisi pasokan, OPEC+ juga menegaskan rencana menahan output tetap untuk Maret (melanjutkan fase pembekuan kenaikan produksi). Kombinasi sinyal de-eskalasi, pasokan yang ditahan tapi tidak mengetat drastis, dan sentimen risk-off yang masih terasa (terlihat dari koreksi tajam emas-perak) membuat trader makin gampang “jual dulu, tanya belakangan”.(asd)
Sumber: Newsmaker.id