Geopolitik dan China Jadi Pemicu, Harga Minyak Melonjak
Harga minyak menguat pada hari Senin (29/12), setelah pembicaraan yang dipimpin AS untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina menghadapi komplikasi baru, sementara China berjanji untuk mendukung pertumbuhan tahun depan. West Texas Intermediate (WTI) naik 2,4% dan ditutup di atas $58 per barel, sementara Brent ditutup mendekati $62 per barel. Presiden AS Donald Trump melaporkan ada kemajuan dalam pembicaraan perdamaian dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, meskipun Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan bahwa Moskow akan merevisi posisinya setelah klaim serangan drone terhadap kediamannya.
Meskipun harga minyak menguat, harga masih berada di jalur penurunan bulanan kelima berturut-turut pada Desember, yang akan menjadi penurunan terpanjang dalam lebih dari dua tahun. Kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global, dengan peningkatan produksi dari OPEC+ dan negara-negara luar kelompok tersebut, telah menekan harga. Namun, ketegangan geopolitik, dari Venezuela hingga Nigeria, membantu menahan penurunan harga dalam beberapa pekan terakhir. Isu-isu terkait Ukraina, termasuk masa depan wilayah Donbas, masih memberi dukungan terhadap harga minyak.
Di sisi lain, China, sebagai importir minyak terbesar dunia, berkomitmen untuk memperluas pengeluaran fiskal pada tahun 2026 untuk mendorong pertumbuhan, meskipun menghadapi hambatan seperti penurunan pasar properti dan gesekan perdagangan dengan AS. Penimbunan minyak mentah oleh Beijing diperkirakan akan terus berlanjut, membantu menyerap surplus pasokan. Ketegangan geopolitik juga meningkat di Timur Tengah, yang dapat mengancam aliran pasokan minyak dari kawasan tersebut, terutama jika terjadi eskalasi serangan terhadap Iran. Selain itu, Trump telah mengintensifkan langkah-langkah terhadap Venezuela, dengan blokade maritim yang dapat mempengaruhi pasokan minyak global. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id