Perak Stabil, Dolar Rebound dan Risiko Iran Jaga Volatilitas
Harga perak bergerak cenderung datar pada Kamis (5/3), bertahan di sekitar US$83,83 per ons, naik tipis (sekitar 0,8%) dibanding penutupan sebelumnya, ketika penguatan dolar kembali menahan ruang penguatan logam mulia di tengah ketidakpastian konflik AS–Iran.
Pasar tetap waspada karena konflik AS–Israel terhadap Iran memasuki hari keenam, menjaga premi risiko geopolitik dan membuat pergerakan perak cenderung sensitif terhadap headline eskalasi. Dalam perkembangan terbaru, serangan kapal selam AS yang menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka menambah kekhawatiran konflik melebar di luar Timur Tengah.
Di sisi lain, pasar sempat mendapat “nada optimistis” setelah muncul laporan bahwa pihak Iran menjajaki kemungkinan pembicaraan damai dengan AS. Namun, Teheran kemudian membantah adanya pendekatan tersebut, membuat pelaku pasar kembali berhitung soal durasi konflik dan risiko gangguan ekonomi yang lebih lama.
Pemerintahan Trump juga berupaya menenangkan pasar terkait kesinambungan aktivitas komersial di kawasan Teluk. Upaya ini penting bagi sentimen karena setiap gangguan jalur logistik energi berpotensi mengerek inflasi dan mendorong dolar menguat, yang biasanya menekan logam mulia yang dihargakan dalam dolar.
Di luar geopolitik, faktor kebijakan ikut masuk radar setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan tarif global 15% yang diumumkan Presiden Donald Trump diperkirakan mulai berlaku pekan ini. Kombinasi risiko geopolitik dan tarif mempertebal ketidakpastian makro, menjaga perak bergerak dalam rentang sempit dengan bias headline-driven. (Arl)
Source: Newsmaker.id