Minyak Sedikit Lebih Tinggi Ditengah Meningkatnya Risiko Pasokan
Harga minyak ditutup naik tipis pada Kamis (18/12), ketika investor menilai kemungkinan sanksi tambahan dari AS terhadap Rusia serta risiko pasokan yang ditimbulkan oleh pemblokadean kapal tanker minyak Venezuela.
Minyak mentah Brent naik 14 sen atau 0,2% dan ditutup di $59,82 per barel. Sementara WTI (West Texas Intermediate) AS naik 21 sen atau 0,4% menjadi $56,15 per barel.
“Kontrak berjangka minyak mentah sedang mencoba mencari pijakan dari pemblokadean ekspor minyak Venezuela. Jika ini berlanjut, kemungkinan produksi di wilayah tersebut akan terpaksa dihentikan karena tidak ada tujuan pengiriman,” kata Dennis Kissler, senior vice president of trading di BOK Financial.
Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan ia percaya pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina “semakin mendekati sesuatu”, menjelang pertemuan AS dengan pejabat Rusia akhir pekan ini.
Bloomberg melaporkan pada Rabu, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, bahwa AS sedang menyiapkan putaran sanksi baru terhadap sektor energi Rusia jika Moskow tidak menyetujui kesepakatan damai dengan Ukraina. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa Trump belum membuat keputusan terkait sanksi Rusia.
“Jika tidak ada kesepakatan damai Rusia/Ukraina, serangan terhadap Rusia bisa meningkat, yang dapat dengan cepat memperketat pasokan. Dan jika ditambah dengan pemblokadean minyak Venezuela, harga minyak mentah bisa saja saat ini tergolong agak ‘terlalu murah’,” ujar Kissler.
Risiko pasokan makin meningkat
Analis ING menyebut langkah tambahan yang menargetkan minyak Rusia dapat menimbulkan risiko pasokan yang lebih besar bagi pasar dibanding pengumuman Trump pada Selasa bahwa AS akan memblokade kapal tanker yang masuk dan keluar Venezuela yang berada dalam daftar sanksi.
Inggris menjatuhkan sanksi kepada 24 individu dan entitas dalam rezim sanksi Rusia, termasuk perusahaan minyak Rusia Tatneft dan Russneft, menurut pemberitahuan resmi pemerintah pada Kamis.
ING memperkirakan pemblokadean Venezuela bisa memengaruhi 600.000 barel per hari (bph) ekspor minyak Venezuela, sebagian besar ke China, namun sekitar 160.000 bph ekspor ke AS kemungkinan tetap berlanjut.
Kapal-kapal Chevron disebut masih terus berangkat menuju AS berdasarkan izin sebelumnya dari pemerintah AS.
Venezuela pada Kamis mengizinkan dua kapal tanker raksasa (VLCC) yang tidak terkena sanksi untuk berlayar ke China, menurut dua sumber yang memahami operasi ekspor minyak Venezuela.
Masih belum jelas bagaimana pemblokadean oleh AS akan ditegakkan. Pekan lalu, Penjaga Pantai AS mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menyita sebuah kapal tanker minyak Venezuela, dan sumber menyebut AS sedang bersiap untuk lebih banyak aksi pencegatan seperti itu.
Minyak mentah Venezuela menyumbang sekitar 1% dari pasokan global.
Analis Bank of America memperkirakan harga minyak yang lebih rendah akan mengurangi pasokan. Jika harga WTI rata-rata $57 per barel pada 2026 (sesuai proyeksi mereka), produksi minyak serpih (shale) AS bisa menyusut sekitar 70.000 bph.(yds)
Sumber: Reuters.com