Ekspor Rusia Pulih, Ini yang Terjadi pada Minyak
Harga minyak kembali turun pada sesi Asia setelah pelabuhan penting Rusia, Novorossiysk, memulai lagi aktivitas pemuatan minyak mentah. Pemulihan ini langsung meredakan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan, sehingga keuntungan besar yang tercatat di sesi sebelumnya ikut tergerus. Brent untuk kontrak Januari turun 0,9% ke $63,80 per barel, sementara WTI melemah 1% ke $59,47 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari 2% setelah Ukraina melancarkan serangan besar ke fasilitas energi Rusia, termasuk terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC). Serangan tersebut sempat menghentikan ekspor yang mewakili sekitar 2% pasokan global, sehingga pasar langsung bereaksi dengan kenaikan harga yang tajam. Namun, data pelacakan kapal menunjukkan bahwa tanker sudah kembali memuat minyak pada hari Minggu.
Meski kekhawatiran jangka pendek mereda, pasar tetap waspada. Ukraina mengaku kembali menyerang dua kilang minyak Rusia lainnya pada akhir pekan, menimbulkan potensi gangguan jangka panjang terhadap infrastruktur energi Moskow. Situasi yang tidak stabil ini menyebabkan pelaku pasar berhati-hati dalam membaca arah pergerakan harga selanjutnya.
Selain itu, pelaku pasar juga menilai risiko baru dari sanksi AS yang diperketat. Mulai 21 November, perusahaan dilarang bertransaksi dengan Lukoil dan Rosneft, memaksa pembeli untuk memutus kontrak. Kondisi ini dapat membuat sebagian minyak Rusia “terkubur” tanpa pembeli. Para analis memperingatkan bahwa meskipun pasar minyak diproyeksikan surplus hingga 2026, eskalasi serangan drone Ukraina dan ketegangan di kawasan Hormuz — termasuk insiden penyitaan tanker oleh Iran — dapat menciptakan risiko pasokan yang semakin besar.(asd)
Sumber: Newsmaker.id